Kamis, 08 Desember 2016



Falsafah Pendidikan untuk Pengadapan Manusia

Pendidikan itu berbeda dengan persekolahan. Memang tidak selalu dua yang bertentangan. Namun dua benda ini memang harus dibedakan, karena banyak orang dibingungkan oleh keduanya.

Banyak orang beranggapan dia sedang menerangkan topik pendidikan, ternyata yang dimaksud adalah sekolah atau persekolahan.

Pendidikan adalah substani dan isi sementara persekolahan adalah sistem, sarana dan gedung. Cukup sering sarana memberikan bantuan. Tetapi dalam beberapa dekade ini, dalam banyak kasus, sekolah dengan segala sepatu, buku, administrasi, uang gedung, ijazah dan masih banyak aksesori lain lebih banyak mengganggu pendidikan daripada membantu.
Sekarang ini kita banyak diskusi mengenai Standar Nasional Pendidikan, UU tentang Guru dan Dosen (ada lagi Undang-undang Badan Hukum Pendidikan yang dikeluarkan pada tahun 2005). Anehnya semua undang-undang pendidikan ini bukanlah persoalan pendidikan. Ia hanyalah setitik kecil persoalan teramat panjang dari persekolahan. Langsung tidak langsung adanya sekolah telah menambah biaya (uang, mental, energi, fisik) yang harus dipikul masyarakat untuk mengenyam pendidikan.

Lalu pertanyaan berikut, mengapa kita hanya bisa mengeluh dan meratapi suasana itu? Beranikah kita melawan dan tampil beda dari mereka? “kita” di sini yang disebutkan disini selalu mengandalkan gerakan bersama. Protes harus dikerjakan bersama-sama agar berubah menjadi proyek kesadaran.

Masihkan kita punya keberanian untuk kembali pada ‘pendidikan’ yang menjadi substansi, bukan persekolahan yang terus-menerus menjadi sumber carut-marutnya pendidikan. Kita mesti sadar bahwa yang mutlak untuk kita adalah kembali pada filsafat pendidikan yang solid: mendidik orang menjadi berilmu dan memiliki etos dan punya displin tanpa menjadikan anak didik seperti robot dan patung emas.

Pendidikan dan Filosofi Sang Guru

Dalam novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata menulis tentang filosofi sang guru, “Guru yang pertama kali membuka mata kita akan huruf dan angka-angka sehingga kita pandai membaca dan menghitung.” Pengalaman Hirata yang dituliskan dalam bentuk novel ini membuka hati kita akan peran dan filosofi seorang guru sebagai pendidik dan pengajar untuk membebaskan para peserta didik dari kegelapan menuju pencerahan.

Harapan bagi para guru untuk membebaskan anak-anak bangsa dari kegelapan belum tercapai. Kemerosotan mutu pendidikan nasional di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari rendahnya mutu guru karena mempunyai peran sangat penting dan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan.

Dalam kerangka peningkatan mutu, satu permasalahan fundamental dalam sistem pendidikan nasional adalah dehumanisasi pendidikan. Seharusnya pendidikan menghormati dan menghargai martabat manusia beserta segala hak asasinya. Peserta didik seharusnya tumbuh dalam kemanusiaannya sebagai subyek melalui proses pendidikan. Tapi yang sedang terjadi adalah justru sebaliknya. Ada terlalu banyak pratik-pratik sekolah yang menunjukkan betapa peserta didik sudah diperlakukan sebagai objek demi kepentingan ideologi, politik, industri,dan bisnis.

Guru sebagai pendidik tidak mampu mengembangkan kesadaran untuk menghentikan gejala dehumanisasi ini dan membebaskan peserta didik dari kegelapan karena para guru merasa terjebak sebagai objek dalam sistem pendidikan nasional. Berikut kami tampilkan sebagian kecil realitas belenggu kemiskinan yang dihadapi guru yakni:

1. Dengan gaji dan tunjangan yang kurang memadai, guru terlalu sibuk mencari penghasilan tambahan.
2. Dengan jam mengajar yang panjang dan tugas administratif yang membebani, guru sudah tidak punya waktu untuk membaca dan mengembangkan diri akibatnya pengetahuan, wawasan dan kreatifitas guru sulit berkembang.
3. Guru yang seharusnya berperan sebagai aktor dalam proses pembudayaan transformasi nilai-nilai malah sebagai guru malah melakukan pelanggaran etika sebagai pendidik dengan memberikan les privat bagi peserta didik dan bahkan membocoran soal ujian sendiri atau terlibat sebai saksi yang menutup mulut atas beberapa tindakan manipulasi dan korupsi oleh birokrasi pendidikan atau pengelola sekolah.
4. Akhirnya belenggu kemiskinan finansial, intelektual, emosional dan kultural sering membuat guru kehilangan indentitas dan integritas. Pekerjaan sebagai guru tidak lagi dilandasi oleh spiritualitas profesi dan tidak menjadi bagian perjalanan kemanusiaan.

Pendidikan tidak pernah lepas dari wibawa dan peranan guru. Maka dalam cahaya pradigma baru kita perlu berupaya mengangkat derajat guru. Di tengah keprihatinan terhadap kemerosotan mutu dan status guru, peraturan pemerintah No.19, tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan dan undang-undang no.14, tahun 2005 tentang guru dan dosen yang diluncurkan dengan itikad baik diantaranya mengatur profesionalisme guru dan memberikan jaminan terhadap perlindungan dan kesejahteraan guru.

Sementara yang menjadi janggal adalah persoalan konseptual pendidikan profesional guru masih belum terselesaikan, program porfotfolio sudah langsung dijalankan untuk menilai kompetensi seorang guru. Akibatnya berbagai akses (misalnya keikutsertaan dalam program pendidikan dan pelatihan hanya demi sertifikat, ada manipulasi berkas, dan kolusi antara pemilik fortofolio dan penilai) sangat menodai profesi guru dan bahkan melemparkan guru pada titik nadir dalam perjalanan profesinya.ini problema guru yang dihadapi di Indonesia.

Terlepas dari segala tetek bengek peraturan yang dibuat oleh pemerintah satu hal penting dalam mendidik adalah bahwa guru harus bepegang pada filosofi pengajaran yakni semangat sebagai guru secara terus-menerus harus mengaitkan tiga hal yakni dirinya sendiri, anak didik, dan bidang pengetahuan/keterampilan yang diampunya. Berbagai kemampuan yang diharapkan dimiliki dan dikembangkan seorang guru seyogianya menjadi bagian tak terpisahkan dari sosok utuh kompetensi profesional seorang pendidik.

Perwujudan Falsafah Pendidikan

Peter C.Hodgson, seorang ahli pendidikan melihat sosok Allah sebagai Pendidik utama dalam transformasi hidup sejarah manusia dan menawarkan sejarah Pendidikan Allah. Peter C.Hodgson menjungkirbalikkan berhala-berhala pendidikan modern yang banyak merusak manusia antara lain memaksa anak untuk berprestasi sedemikian hebat dengan sistem pemaksaan jadwal yang sangat ketat. Peter menawarkan inti falsafah Pendidikan yang di dalamnya ada roh kasih, kebenaran, dan keadilan.

Menurut Hodgson pendidikan harus menyingkapkan kebenaran dan menyelematkan umat manusia dari kesesatan (the darkness of error) dan berhala (idolatry). Karena itu dalam konteks pendidikan mesti disadari bahwa akal budi di satu sisi adalah tanda kemuliaan Ilahi, tetapi sekaligus menjadi potensial menjadi sumber penderitaan manusia yang tak terperikan.

Kita perlu menebus budi namun tidak menggusurnya. Kita perlu memerangi kejahatan yang disebabkan oleh akal budi. Pendidkan bertujuan membeirkan tanggapan terhadap panggilan akan kebenaran. Inilah rangkuman seluruh roh pendidikan. Lepas dari sini maka pendidikan akan tidak berdaya guna.

Semuanya bisa berjalan dengan baik karena ada kerja sama. Kerja sama, iman, kasih, dan solidaritas menjadi inti falsafah pendidikan. Karena itu dalam konteks menerapkan falsafah pendidikan perlu diperhatikan tiga C yakni

Competensi = dapat diandalkan dan berdaya guna.
Compassion = berempati kepada orang lain.
Conscience = memiliki kesadaran moral (beriman).

Dengan tiga C yang ditanamkan dalam pendidikan hasil yang diharapkan adalah manusia terdidik yang memiliki kharakter. Kita mengharapkan setiap anak didik yang dididik tumbuh menjadi manusia berkarakter (memiliki kepribadian yang tangguh). Menurut Ernest Hull, seorang Jesuit pendidik dari abad lalu, pembentukan karakter dimulai dengan “tujuan yang hendak dicapai.” Kita perlu berfantasi, membayangkan karakter yang hendak dibangun pada siswa. Agar berkarakter maka setiap anak didik perlu didorong untuk disiplin, dikondisikan untuk tidak mencontek, bermental juara dan bahkan jiwa seni mereka pun perlu dikembangkan.

Pendidikan karakter adalah bagian integral upaya mendampingi peserta didik untuk mengembangkan potensi manusiawi mereka. Maka tanggungjawab sekolah adalah membantu peserta didik untuk mengubah potensi manusiawi menjadi tindakan konkret. Pendidikan karakter ini juga untuk memberikan visi etis kepada peserta didik.

Visi etis diharapkan menempatkan diri mereka pada horizon yang lebih luas. Pendidikan yang mengabaikan pembentukan visi etis dikawatirkan hanya akan menjadi proses pemindahan pengetahuan yang tidak berakar berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan karakter dengan demikian diharapkan dapat membantu peserta didik untuk menjadi pribadi yang semakin manusiawi dan beriman.

Pintar saja tidak cukup tetapi perlu mendidik anak-anak di sekolah Katolik agar bisa berempati, beriman dan lebih manusiasi. Manusia berkarakter (manusia beradab) merupakan salah satu tujuan filsafat pendidikan.

Belajar dari Filosofi Kehidupan Kucing

Bersatulah.com - Kucing, Siapa si yang tidak tahu binatang yang satu ini, bagaimana sifat  mereka, bagaimana kelakuan dan kebiasaan mereka. Terkadang kita merasa geli atau mungkin malah ketakutan karna tingkah laku mereka (baca:kucing). Mungkin hal tersebut terdengar lumrah diantara kita. Tapi  tahukah Anda dibalik kebiasaan-kebiasaan mereka (baca:kucing) terdapat filosofi indah yang bisa kita ambil sebagai contoh untuk kita menjalani hidup ini. Berikut ini kebiasaan-kebiasaan kucing yang dapat kita ambil pelajaran positifnya untuk menjalani hidup:



Suka bermain dengan majikan

Belajar dari Filosofi Kehidupan Kucing | Suka bermain dengan majikan


Pada umumnya semua kucing suka sekali bermain dengan majikannya, hal tersebut nampak seperti salah satu kebutuhan mereka (baca:kucing).
Filosofinya: Kita sebagai manusia butuh yang namanya bersosialisasi, mungkin iya jita bisa hidup tanpa bersosialisasi pada dunia luar. Tapi pasti kita akan merasa sepi dan tersiksa, karena pada dasarya manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan sesama untuk hidup. Menurut teori Abraham Maslow, manusia memiliki 5 kebutuhan dasar yakni kebutuhan Fisiologis, Keamanan dan keselamatan, Sosial, Penghargaan, dan Aktualisasi Diri. Pada teori tersebut menjelaskan bahwa manusia itu butuh teman, keluarga, cinta, pujian, hadiah dll. Jika kita tidak bersosial maka mana mungkin kita bisa mendapatkan itu semua. Jadi intinya adalah bersosialisasi merupakan kebutuhan setiap manusia.


Mencuri Ikan

Belajar dari Filosofi Kehidupan Kucing
Mungkin dari kita ada yang pernah ikan, ayam atau makanannya di curi oleh kucing. Bahkan pada masyarakat populer dengan salah satu pepatah yang bunyinya "malu-malu kucing". Pepatah tersebut bersal dari sikap kucing yang bertindak tidak mau pada ikan yang ada, tapi ketika simajikan atau tidak ada orang yang melihatnya mereka (baca:kucing) akan langsung sikat dan bawa kabur ikan secara misterius. Yang perlu kita tahu adalah kucing akan selalu sabar menunggu dan memastikan si majikan lengah dan tidak melihatnya. Dan ketika kesempatan itu ada mereka akan langsung bertindak mencuri makanannya.

Filosofinya: Bersabarlah akan segala sesuatu, karena pada umumnya segala sesuatu itu memerlukan timing yang bagus untuk berhasil mendapatkan yang kita inginkan. Dan ketka kesempatan itu ada langsung hajar sob, jangan sia-siakan kesempatan, karena kesempatan tidak datang untuk yang kedua kalinya.
Memindahkan anaknya ketika merasa terganggu
Belajar dari Filosofi Kehidupan Kucing

Sudah menjadi naluri seorang ibu kucing yang sering memindahkan anaknya dari tempat satu ketempat yang aman. Hal ini dikarnakan ketika anak-anaknya ketahuan oleh manusia. Disini kita melihat masalah trust (baca:kepercayaan), walaupun si kucing tahu bahwa yang mengetahui adalah majikannya sendiri tapi mereka akan tetap tidak percaya dan akan tetap memindahkan anak-anaknya.

Filosofi: Sekenal apapun, sedekat apapun kita dengan seseorang kita harus tetap tetap menyisakan sedikit kecurigaan untuknya. karena kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya, kita juga tidak tahu apa yang direncanakanya untuk kita. Coz orang bisa berubah karena waktu, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukannya dimasa depan. Bahkan tidak menutup kemungkinan yang notabennya baik bisa berubah menjadi jahat dan melakukan hal buruk kepada kita. dan sepatutnya kita juga harus bijak, sebagai manapun kita percaya kepada orang, kita harus jaga-jaga dan patut menaruh tempat kecil dihati untuk tidak mempercayainya.
Menggali Tanah Sebelum membuang Air


Secara naluri kucing akan selalu menggali tanah sebelum membuang air dan ketika selesai membuang air mereka(baca:kucing) akan menutupnya kembali, Kira-kira apa ya tujuannya? Menurut dongeng mereka melakukan kegiatan itu agar jejak mereka tidak diketahui oleh musuh bebuyutannya yaitu anjing.  Karena dengan mengubur kotoran mereka bisa menutupi jejak yang telah dibuat sehingga anjing akan kesusahan melacak jejak kucing.

Filosofi: Kita harus memikirkan segala sesuatu sebelum kita bertindak, pastikan kita sudah mengetahui dan memahami akan apa yang akan kita lakukan dan apakah resikonya sebelum melakukan sesuatu, sehigga meminimalisir terjadinya hal yang tidak kita inginkan dimasa yang akan datang.

Menolak saat dimandikan

Belajar dari Filosofi Kehidupan Kucing
Tidak semua kucing bersukarela untuk dimandikan oleh majikannya. Terkadang mereka yang biasanya jinak dan lembut bisa saja langsung berontak ketika kita melakukan hal yang tidak dia sukai. Kucing akan menolaknya, dan tidak akan pernah suka dengan hal ini, tapi setiap kali mereka selesi dimandikan mereka akan menjadi bersih dan lebih harum.

Filosofi: Kita tidak boleh takut mencoba hal baru atau hal yang tidak pernah kita sukai dalam hidup ini. karena walaupun kita tidak menyukainya bukan berarti hal itu buruk untuk kita, dan kadang hal tersebut bisa jadi yang membuat kita lebih baik.

Tidur Siang hari dan beraktivitas dimalam hari

Belajar dari Filosofi Kehidupan Kucing
Kucing adalah hewan nocturnal yang akan lebih sering tidur atau beristirahat diwaktu siang dan beraktivitas diwaktu malam.

Filosofi: Atur Waktu sebaik mungkin kerjakan segala sesuatu selagi masih bisa.
Mencakar Dinding, kursi atau lainnya

Belajar dari Filosofi Kehidupan Kucing

Mugkin banyak dari para majikan kucing yang kesal engan kebiasaan yang satu ini, karena dapat merusak dinding dan kursi majikan. Tapi tahukah Anda bahwa kucing mencakar diniding atau kursi demi suatu alasan yaitu untuk mempertajam kuku mereka untuk kebutuhan seperti beburu atau memanjat ketika mereka membutuhkan.

Filosofi: Mempersiapkan hal jauh sebelum kita melakukannya. Persiapkan segala sesuatu untuk digunakan dan dimanfmangmasa yang akan datang.
Bermain dengan Mangsanya

Belajar dari Filosofi Kehidupan Kucing
Kenapa tikus dimainkan dulu setelah diburu bukan langsung dimakan. Ketika mendapatkan tikus kucing akan mencoba memainkan mangsanya untuk memastikan mereka tidak akan kabur atau memphp kucing tersebut.

Filosofi: Kita harus memastikan segala hal yang kita lakukan itu sudah benar-benar selesai dan tidak ada kesalahan yang bisa membuat kita menyesal.

Rabu, 07 Desember 2016

70 Kata-kata Bijak Orang Terkenal.

1. Marah itu mudah. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang tulen, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)

2. Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup. (John Pattrick).

3. Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda. (Henry Ward Beecher)

4. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat. (Winston Chuchill)

5. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. (Goethe)

6. Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati. (Charles Lamb)

7. Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. (Richard Wheeler)

8. Bila Anda ingin bahagia, buatlah tujuan yang bisa mengendalikan pikiran, melepaskan tenaga, serta mengilhami harapan Anda, (Andrew Carnegie).

9. Kita hanya berfikir ketika kita terbentur pada suatu masalah. (John Dewey)

10.Kesalahan orang lain terletak pada mata kita, tetapi kesalahan kita sendiri terletak di punggung kita. (Ruchert)

11.Yang baik bagi orang lain adalah selalu yang betul-betul membahagiakannya. (Aristoteles)

12.Semua yang real bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat real. (Hegel)

13.Sebelum menolong orang lain, saya harus dapat menolong diri sendiri. Sebelum menguatkan orang lain, saya harus bisa menguatkan diri sendiri dahulu. (Petrus Claver)

14.Lebih baik bertempur dan kalah daripada tidak pernah bertempur sama sekali. (Arthur Hugh Clough)

15.Hidup adalah lelucon yang baru saja dimulai. (W.S. Gilbert)

16.Orang yang bisa menggunakan dan menyimpan uang adalah orang yang paling bahagia, karena ia memiliki kedua kesenangan. (Samuel Johnson)

17.Kebijaksanaan tidak pernah berbohong. (Homer)

18.Tuhan sering mengunjungi kita, tetapi kebanyakan kita sedang tidak ada di rumah. (Joseph Roux)

19.Seorang pendengar yang baik mencoba memahami sepenuhnya apa yang dikatakan orang lain. Pada akhirnya mungkin saja ia sangat tidak setuju, tetapi sebelum ia tidak setuju, ia ingin tahu dulu dengan tepat apa yang tidak disetujuinya. (Kenneth A. Wells)

20.Seorang lelaki sudah setengah jatuh cinta kepada wanita yang mau mendengarkan omongannya dengan penuh perhatian. (Brenden Francis)

21.Kebahagian hidup yang sebenarnya adalah hidup dengan rendah hati. (W.M. Thancheray)

22.3x25 Watt ≠ 75 Watt
Sebuah bola lampu berukuran 75 watt kelihatan bersinar lebih terang dibandingkan dengan tiga buah bola lampu 25 Watt yang dinyalakan bersamaan.

23.Dari semua hal, pengetahuan adalah yang paling baik, karena tidak kena tanggung jawab maupun tidak dapat dicuri, karena tidak dapat dibeli, dan tidak dapat dihancurkan. (Hitopadesa)

24.Bila orang mulai dengan kepastian, dia akan berakhir dengan keraguan. Jika orang mulai dengan keraguan, dia akan berakhir dengan kepastian. (Francis Bacon)

25.Cuma sedikit orang yang menginginkan kebebasan, kebanyakan hanya menginginkan seorang tuan yang adil. (Gaius Sallatus Crispus)

26.Tak diinginkan, tak dicintai, tidak diperhatikan, dilupakan orang, itu merupakan derita kelaparan yang hebat, kemiskinan yang lebih besar daripada orang yang tak bisa makan. Kita harus saling merasakan hal itu. (Ibu Teresa)

27.Pengalaman bukan saja yang telah terjadi pada diri Anda. Melainkan apa yang Anda lakukan dengan kejadian yang Anda alami. (Aldous Huxley)

28.Dunia adalah komedi bagi mereka yan memikirkannya, atau tragedi bagi mereka yang merasakannya. (Harace Walpole)

29.Saya percaya kata managing berarti memegang burung dara di kepalan tangan. Kalau terlalu kencang ia akan mati. Tapi bila terlalu kendur, bisa terlepas. (Tommy Lasorda)

30 Sejarah manusia merupakan tanah pemakaman dari kebudayaan-kebudaya an yang tinggi, yang rontok karena mereka tidak mampu melakukan reaksi sukarela yang terencana dan rasional untuk menghadapi tantangan. (Erich Fromm)

31.Kemajuan merupakan kata yang merdu. Tetapi perubahanlah penggeraknya dan perubahan mempunyai banyak musuh. (Robert F. Kennedy)

32.Kita mengajarkan disiplin untuk giat, untuk bekerja, untuk kebaikan, bukan agar anak-anak menjadi loyo, pasif, atau penurut. (Maria Montessori)

33.Tugas dan pendidikan ialah mengusahakan agar anak tidak mempunyai anggapan keliru bahwa kebaikan sama dengan bersikap loyo dan kejahatan sama dengan bersikap giat. (Maria Montessori)

34.Kemampuan menertibkan keinginan merupakan latar belakang dari watak. (John Locke 1632-1704)

35.Kebahagian dari setiap negara lebih bergantung pada watak penduduknya daripada bentuk pemerintahannya. (Thomas Chandler Haliburton 1796-1865)

36.Menyapu lantai dan mencuci pispot sama mulianya seperti menjadi presiden. (Richard M. Nixon)

37.Jangan pernah membanting pintu, siapa tau kita harus kembali. (Don Herold)

38.Diplomat ialah orang yang selalu ingat pada ulang tahun seorang wanita tetapi tidak pernah ingat berapa umur wanita itu. (Robert Frost)

39.Orang yang paling tidak bahagia ialah mereka yang yang paling takut pada perubahan. (Mignon McLaughlin)

40.Kalau manusia berangsur menjadi tua, umumnya ia cendrung menetang perubahan, terutama perubahan ke arah perbaikan. (John Steinbeck)

41.Selama hidup saya yang sudah 87 tahun ini, saya telah menyaksikan serentetan revolusi teknologi. Tetapi tidak satu pun diantaranya yang tidak membutuhkan watak yang baik atau kemampuan untuk berfikir. (Bernard M. Baruch)

42.Pendidikan mempunyai akar yang pahit, tapi buahnya manis. (Aristoteles)

43.Pendidikan mengembangkan kemampuan, tetapi tidak menciptakannya. (Voltaire)

44.Pendidikan yang baik tidak menjamin pembentukan watak yang baik. (Fonttenelle)

45.Setelah makan, pendidikan merupakan keperluan utama rakyat. (Danton)

46.Kerendahan hati disukai orang-orang terkenal. Namun orang yang bukan apa-apa sulit untuk rendah hati. (Paul Valěry)

47.Emansipasi merupakan seni untuk berdiri di atas kaki sendiri namun dipeluk tangan orang lain. (Alex Winter)

48.Sebelum menikah saya mempunyai enam teori tentang bagaimana mendidik anak. Kini saya mempunyai enam anak dan tidak mempunyai teori. (John Wilmot, Earl of Rochester 1647-1680)

49.Kebahagiaan itu seperti batu arang, ia diperoleh sebagai produk sampingan dalam proses pembuatan sesuatu. (Aldous Huxley)

50.Dari pesawat terbang yang saya cintai, saya melihat ilmu pengetahuan yang saya puja memusnahkan kebudayaan, padahal saya mengharapkan mereka dimanfaatkan untuk kebudayaan. (Charles A. Lindbergh, Jr.)

51.Harapan adalah tiang yang menyangga dunia. (Pliny the Elder)

52.Alat penghemat kerja yang paling populer sampai saat ini masih tetap suami yang berada. (Joey Adams)

53.Seorang arkeology merupakan suami yang terbaik yang bisa diperoleh wanita; makin tua si istri, makin besar minat suami terhadapnya. (Agatha Cristie)

54.Saya lebih suka lamunan untuk masa akan datang daripada sejarah masa lalu. (Thomas Jefferson 1743-1826)

55.Jangan memberi nasehat kalau tidak diminta. (Erasmus)

56.Manusia mudah dibohongi oleh orang yang dicintainya. (Molire)

57.Sebelum menulis, belajarlah berpikir dulu. (Boileau)

58.Orang yang berjiwa cukupan, merasa bisa menulis dengan hebat. Orang yang berjiwa besar merasa bisa menulis cukupan. (La Bruyère)

59.Kemenangan yang paling indah adalah bisa menaklukkan hati sendiri. (La Fontaine)

60.Tidak ada yang selembut dan sekeras hati. (G.C. Lichtenberg)

61.Lebih baik mengerti sedikit daripada salah mengerti. (A. France)

62.Orang memerlukan dua tahun untuk berbicara, tetapi limapuluh tahun untuk belajar tutup mulut. (Ernest Hemingway)

63.Penulis buku jarang intelektual. Intelektual ialah mereka yang berbicara tentang buku yang ditulis orang lain. (Françoise Sagan)

64.Orang yang mencemarkan udara dengan pabriknya dan anak ghetto yang memecahkan kaca etalase toko menunjukkan hal yang sama. Mereka tidak peduli pada orang lain. (Dhaniel Patrick Moynihan)

65.Mereka yang bermimpi di siang hari akan lebih menyadari bahaya yang luput dari penglihatan mereka yang mimpi di malam hari. (Edgar Allen Poe)

66.”Mulai” adalah kata yang penuh kekuatan. Cara terbaik untuk menyelesaikan sesuatu adalah, “mulai”.Tapi juga mengherankan, pekerjaan apa yang dapat kita selesaikan kalau kita hanya memulainya. (Clifford Warren)

67.Saya tak hanya menggunakan semua kecerdasan yang dimiliki otak melainkan juga yang dapat saya pinjam. (Woodrow Wilson)

68.Yang kalah adalah wujud hukuman atas kegagalan. Pemenang adalah penghargaan atas kesuksesannya. (Bob Gilbert)

69.Bila Anda mengatakan apa yang Anda pikirkan, jangan harap hanya mendengar apa yang Anda sukai. (Malcom S. Forbes)

70.Kesulitan itu ibarat seorang bayi. Hanya bisa berkembang dengan cara merawatnya. (Douglas Jerrold)

5 Filosofi Kehidupan yang Bisa Kita Pelajari dari Pensil

Belajar kehidupan ternyata bisa dari apa saja, baik dari pengalaman, belajar dari orang lain atau belajar dari lingkungan sekitar. Di samping itu belajar bisa juga dari sebuah hewan dan benda mati.
Yang namanya belajar memang bisa dari siapapun, apapun dan dimanapun, maka tak heran ada hadits yang menjelaskan pentingnya belajar dan mencari ilmu.
Jika mendengar belajar dari pensil mungkin akan membuat orang heran, mereka pasti berpikir keras, bagaimana mungkin belajar dari alat yang kita pakai, rasanya aneh pastinya. Tapi tunggu dulu, sebelum memvonis aneh, baca dibawah ini dulu.

1. Pensil Butuh Penggerak

Pensil bisa menulis apapun, bisa menggambar apapun, dia bisa menghasilkan karya yang hebat, karya yang indah, bahkan bisa membuat terkenal. Tapi perlu diketahui bahwa, pensil tidak bisa menghasilkan karya tanpa tangan penggerak.
Layaknya seperti manusia, manusia tidak bisa bergerak, tidak bisa berkarya tanpa ada yang menggerakkan.
Dan DIA lah ALLAH yang menggerakkan manusia, yang memberi ide, yang memberi kemampuan, memberi kekuatan, kesehatan dan nikmat yang sangat banyak sekali.

2. Pensil Perlu Diraut


Pensil butuh berhenti untuk meneruskan kerjanya, ia butuh untuk diraut agar kembali tajam, mungkin rautan tersebut akan menyakiti pensil, membuat pensil kesakitan, menangis dan merasa kehilangan.
Tapi setelah rautan itu selesai pensil akan kembali tajam, ia kembali kuat dan siap digunakan untuk bekerja.
Seperti manusia, dalam hidup akan mendapat ujian, cobaan, sakit dan kehilangan, tapi setelah itu justru menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih siap dan lebih dewasa dalam menjalani hidup.

3. Kesempatan Menghapus


Pensil memberikan kita kesempatan untuk menghapus kesalahan yang kita buat. Kita pun mampu membersihkannya dengan maksimal dan diganti dengan hal yang benar.
Dalam hidup, jika kamu mempunyai banyak kesalahan tentu selalu ada kesempatan untuk memperbaikinya dengan melakukan kebaikan dan itu bukanlah hal yang jelek, tidak perlu malu, kita hapus saja dan berusaha lebih baik lagi.

4. Bagian Terpenting


Bagian terpenting dari pensil adalah arang nya, bagian dalamnya, bukan bagian luarnya. Halnya seperti manusia, yang terpenting bukanlah wajahnya, bukan penampilannya tapi hatinya, budi pekerti nya dan bagaimana dia bermanfaat bagi orang lain.

5. Meninggalkan Jejak


Setiap coretan pensil pasti akan meninggalkan jejak atau goresan, maka seperti hidup manusia juga dimana-mana dalam berbuat pasti meninggalkan jejak, goresan ataupun kenangan, maka kita kudu berhati-hati dalam berbuat dan semua tindakan kita.
Tentu jika kita mau belajar filosofi dari pensil ini hidup menjadi lebih tenang dan terarah, semoga bermanfaat ya

Minggu, 27 November 2016

 Filsafat Hukum keluarga islam


 Pengertian Hukum Islam
          Istilah hukum Islam tidak ditemukan sama sekali di dalam al-Qur’an dan literatur hukum dalam Islam, yang ada dalam al-Qur’an adalah kata Syari’ah, fiqih, hukum Allah Swt dan yang seakar dengannya. Sedangkan kata-kata hukum Islam itu sendiri merupakan terjemahan dari term Islamic Law dari litertur Barat[1], kemudian Hukum Islam menjadi istilah khas Indonesia, sebagai terjemahan dari al-Fiqh al-Islamy atau dalam konteks tertentu dari as-syari’ah                   al-Islamy yang penjabarannya disebut dalam istilah fiqihnya sebagai :
اِثْبَاتُ شَّئٍ عَلىَ اَوْ فقيه عنه
Artinya : “ Menetapkan sesuatu atas sesuatu atau meniadakan sesuatu dari padanya ” .
 Atau dengan istilah yang lainya :
اِثْبَاتُ شَّئٍ عَلىَ شَيْئٍ
Artinya ”  Menetapkan sesuatu pada sesuatu yang lain ”.
          Maka para ulama ushul fiqih menetapkan suatu definisi hukum Islam antara lain :
١. خِطََابُ اللَّهِ الْمُتَعَلِقُ بِأَفْعَالِ الْمَكَلِّفِيْنَ بِالاْ ِقْتِضَاءِ
 اَوِ التَّخْيِيْرِ اَوِ الْوَضْعِ
Artimya : “ Firman Allah Swt yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, baik berupa tuntutan, pilihan, maupun bersifat wadl’i ” [2]. 

٢. خِطَابُ اللَّهِ الْمُتَعَلِقُ بِأَفْعَالِ الْمَكَلِّفِيْنَ طَلَبًا اَوِ التَّخْيِيْرِ            اَوِ الْوَضْعاً
Artinya : “ Khitab ( tatah ) Allah Swt yang berhubungan dengan perbuatan orang mukallaf yang bersifat memerintahkan terwujudnya kemaslahatan dan mencegah terjadinya kejahatan, baik titah itu mengandung tuntutan ( perintah dan larangan ) atau semata-mata menerangkan pilihan ( kebolehan memilih ) atau menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau penghalang terhadap sesuatu hukum “[3].
           Dengan demikian, kata Hukum Islam merupakan formulasi dari Syari’ah dan Fiqihsekaligus. Artinya, meskipun Hukum Islam merupakan formula aktivitas nalar, ia tidak bisa dipisahkan eksistensinya dari Syari’ah sebagai panduan dan pedoman yang datang dari Allah Swt sebagai al-Syar’i[4]. Oleh karena itu, penyebutan Hukum Islam sering dipakai sebagi terjemahan dari Syari’at Islam atau Fiqih Islam.
          Apabila Syari’at Islam diterjemahkan sebagai Hukum Islam ( Hukum in abstracto ), maka berarti syari’at Islam yang dipahami dalam makna yang sempit. Karena kajian Syari’at Islam meliputi aspek اَلاْ ِعْتِقَادِيَة , الخاقية dan الشرعية .  Akan tetapi sebaliknya bila hukum Islam menjadi terjemahan dari Fiqih Islam, maka hukum Islam termasuk kajian ijtihadi yang bersifat dzanni. Sedangkan pada dimensi lain penyebutan hukum Islam selalu dihubungkan dengan legalitas formal suatu negara, baik yang sudah terdapat dalam kitab-kitab fiqih maupun belum. Kalau demikian adanya, maka kedudukan fiqih islam bukan lagi sebagai hukum Islam in abstracto( pada tataran fatwa atau doktrin ) melainkan sudah menjadi hukum Islam in concreto ( pada tataran aplikasi atau pembumian ). Sebab, secara formal sudah dinyatakan berlaku sebagai hukum positif, yaitu aturan negara yang mengikat dalam suatu negara. Namun demikian, agar mendapatkan pemahamana yang benar tentang hukum Islam, maka yang harus dilakukan menurut Muhammad Daud Ali adalah sebagai  berikut :
a. Mempelajari hukum Islam dalam kerangka dasar, dimana hukum Islam menjadi bagian yang utuh dari ajaran dinul Islam.
b. Menempatkan hukum Islam dalam satu kesatuan :
احكام الشرعية العملية , احكام الشرعية العملية الا عتقادية , احكام الشرعية الخاقية
c. Dalam aplikasinya saling memberi keterkaitan antara syari’ah dan Fiqih yang walaupun dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.
d. Dapat mengatur tata hubungan kehidupan, baik secara vertical maupun horizontal[5].
          Dengan paparan tersebut diatas, maka Istilah hukum Islam telah dipakai oleh Hasbi Ash-Shiddieqy dalam bukunya ” Pengantar Hukum Islam ” dan A. Hanafi dalam bukunya ” Pengantar dan Sejarah Hukum Islam ”.  Hasbi     Ash-Shiddieqy membahas sebagian besar tentang Ushul Fiqih, sedangkan A. Hanafi membahas lebih banyak tentang Syari,ah, Fiqih dan Ushul Fiqih.
          Hasbi Ash-Shiddieqy dalam bukunya Falsafah Hukum Islam telah mendefinisikan hukum Islam dengan ” Koleksi daya upaya para fuqaha’ dalam menerapkan Syari’at Islam sesuai dengan kebutuhan masyarakat ”[6] atau dengan kata lain :
 مَجْمُوْعُ مُحَاوَلاَتِ الْفُقَهَاءِ لِتَطْبِيْقِ الشَّرِيْعَةِ عَلَى حَاجَاتِ الْمُجْتَمَعِ
Pengertian ini tampaknya lebih relevan dengan pengertian Fiqih, Dengan demikian, maka hukum Islam berarti : ” seperangkat peraturan berdasarkan wahyu Allah dan Sunnah Rasul tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini berlaku dan mengikat untuk semua umat yang beragama Islam ”[7].
          Muhammad Daud Ali menyatakan, manakala membicarakan hukum Islam, apakah yang dimaksud Syari’at Islam atau Fiqih Islam ? Syari’at Islam adalah hukum Islam yang berlaku abadi sepanjang masa. Sedangkan Fiqih adalah perumusan konkret Syari’at Islam untuk diterapkan pada suatu kasus tertentu disuatu tempat dan di suatu masa[8]. Sedangkan Cik Hasan Bisri mengemukakan bahwa hukum Islam mencakup dimensi abstrak, yakni dalam wujud segala perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya; dan bersifat ajeg di kalangan orang Islam sebagai upaya untuk melaksanakan titah Allah dan  Rasul-Nya[9].
          Hukum Islam sebagai unsur normatif dalam menata kehidupan manusia, berpangkal dari keyakinan dan penerimaan terhadap sumber ajaran agama Islam sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, kedua sumber tersebut selanjutnya dijadikan patokan dalam menata hubungan antar sesama manusia dan antara manusia dengan makhluk Allah Swt lainnya.
          Karena hukum Islam dibangun atas prinsip taukhid, yang dengan prinsip itu ia memiliki beberapa fungsi. Pertama, fungsi transformasi keyakinan terhadap kekuasaan dan kehendak Allah dan Rasulnya-Nya ke dalam nilai-nilai etik dan moral yang dijadikan rujukan perilaku manusia, baik secara individual maupun kolektif. Prinsip ini menjadi dasar dan landasan dalam perumusan kaidah hukum yang mengatur tentang apa yang harus dilakukan ( al-awamir ) dan apa yang dilarang atau mesti ditinggalkan ( al-nawahiy ) oleh manusia. Kedua, fungsi mengatur berbagai bidang kehidupan manusia yang di internalisasikan ke dalam pranata sosial yang tersedia, atau menjadi cikal bakal pranata sosial baru. Ketiga, fungsi mengikat manakala dilakukan transaksi ( uqubad ) di antara manusia baik antar individu ( al-ahwal al-syakhshiyyah ) maupun antara individu dengan masyarakat termasuk yang berhubungan dengan hak-hak kebendaan ( al-madaniyyah ), dengan berpatokan kepada hukum. Keempat, fungsi memaksa manakala ditetapkan oleh kekuasaan kolektif yang memiliki kelengkapan alat, dalam hal ini pemerintah sebagai penyelenggara dan aparatur negara, seperti badan peradilan ( al-qadha’ )[10]. Selanjutnya ada beberapa dimensi hukum Islam berkaitan dengan graduasi dan kawasan hukum tersebut. Hal yang demikian karena hukum Islam merupakan wujud hukum yang konkret, dibandingkan nilai dan kaidah, dan berhubungan dengan yang memproduknya. Dimensi-dimensi tersebut yaitu : syari’ah, ilmu, fiqih, fatwa, nizham, qanun, idarah, qadha dan adat. Kesembilan dimensi hukum Islam itu tumbuh dan berkembang di dunia Islam dan terinternalisasi dalam berbagai pranata sosial yang bercorak keislaman, terutama di Indonesia[11].
          Jadi dari definisi yang dikemukakan diatas dapat difahami bahwa hukum Islam itu mencakup Hukum Syari’ah dan Hukum Fiqih, karena dua istilah yang dipakai untuk menunjukkan hukum Islam, yakni Hukum Syari’ah dan Hukum Fiqih sudah termaktub di dalamnya.
          Dalam bahasa Indonesia, untuk syari’at Islam sering dipergunakan kata-kata hukum syari’at atau hukum syara’, untuk fiqih Islam dipergunakan hukum fiqih atau kadang-kadang hukum ( fiqih ) Islam. Akan tetapi dalam prakteknya seringkali kedua istilah itu dirangkum dalam kata ” Hukum Islam ” tanpa menjelaskan apa yang dimaksud. Ini sangat dipahami karena keduanya memiliki hubungan yang sangat erat yang dapat dibedakan akan tapi sulit untuk dipisahkan.

[1]. Dimana telah menjelaskan bahwa : “ Hukum Islam adalah sekumpulan aturan keagamaan, totalitas perintah Allah Swt yang mengatur prilaku kehidupan umat Islam dalam keseluruhan aspeknya “. Dari definisi ini arti sebenarnya hukum Islam lebih dekat dengan Syari’at Islam, Joseph Schacht ( Terj ) Joko Sopomo ( 2003 ). Pengantar Hukum Islam, Jakarta : Islamika,  hal : 1.
[2] . Al-Baidhawi ( 1982 ). Minhaj al-Ushul, I, Bairut : Alam al-Kutub, hal : 47.
[3] . Muhammad Abu Zahrah ( 1994 ). Ushul Fiqih, Jakarta : Pustaka Firdaus, hal : 26.
[4] . Ahmad Rofiq ( 2001 ). Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia,  Jogyakarta : Gema Media, hal : 23.
[5] . Zainuddin Ali ( 2006 ). Hukum Islam Pengantar Ilmu Hukum Islam di Indonesia, Jakarta : Sinar Grafika,                hal : 2 – 3.
[6] . Hasbi Ash-Shiddieqy ( 1975 ). Falsafah Hukum Islam, Jakarta : Bulan Bintang, hal : 44.
[7] Amin Syarifuddin ( 1990 ). Pembaharuan Pemikiran Dalam Hukum Islam, Padang : Angkasa Raya, hal : 18.
[8] . Muhammad Daud Ali ( 1989 ). Kedudukan Hukum Peradilan Agama Dalam UUD 1945, Jakarta : Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, hal :  28.
[9] . Cik Hasan Basri ( 2001 ). Pilar-pilar Penelitian Hukum Islam dan Pranata Sosial, Bandung : Lembaga Penelitian IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, hal : 29.
[10] . Ibid, hala : 33-34.
[11] . Ibid, hal : 34.
Makna Kebahagiaan Dalam Keluarga


Makna bahagia di dalam keluarga berkaitan dengan tingkat problem yang 
dihadapinya. Kebahagiaan sesungguhnya dalam kehidupan keluarga bukan ketika 
akad nikah, bukan pula ketika bulan madu, tetapi ketika pasangan itu telah 
membuktikan mampu mengarungi samudera kehidupan hingga ke pantai tujuan, dan di 
pantai tujuan ia mendapati anak cucu yang sukses dan terhormat. Hidup berumah 
tangga bagaikan mengarungi bahtera di tengah samudera luas. Lautan kehidupan 
seperti tak bertepi, dan medan hamparan kehidupan sering tiba-tiba berubah.  
Memasuki lembaran baru hidup berkeluarga biasanya dipandang sebagai pintu 
kebahagiaan. Segala macam harapan kebahagiaan ditumpahkan pada lembaga 
keluarga. Akan tetapi setelah periode impian indah terlampaui orang harus 
menghadapi realita kehidupan. 

Sunnah kehidupan ternyata adalah problem Kehidupan kita, tak terkecuali dalam 
lingkup keluarga adalah problem, problem sepanjang masa. Tidak ada seorangpun 
yang hidupnya terbebas dari problem, tetapi ukuran keberhasilan hidup justeru 
terletak pada kemampuan seseorang mengatasi problem. Sebaik-baik mukmin adalah 
orang yang selalu diuji tetapi lulus terus, khiyar al mu'min mufattanun 
tawwabun.(hadis). Problem itu sendiri juga merupakan ujian dari Allah, siapa 
diantara ,mereka yang berfikir positif, sehingga dari problem itu justeru lahir 
nilai kebaikan, liyabluwakum ayyukum ahsanu amala (Q/67:2) liyabluwakum fi ma a 
ta kum (Q/6:165) Menurut hadis Nabi, menemukan pasangan yang cocok 
(saleh/salihah) dalam hidup berumah tangga berarti sudah meraih  separoh urusan 
agama, separoh yang lain tersebar di berbagai bidang kehidupan. Hadis ini 
mengambarkan bahwa rumah tangga itu serius dan strategis. Kekeliruan orientasi, 
keliru jalan masuk, keliru persepsi, keliru
 problem solving dalam hidup rumah tangga akan membawa implikasi yang sangat 
luas. Oleh karena itu problem hidup berumah tanga adalah problem sepanjang 
zaman, dari sejak problem penyesuaian diri, problem aktualisasi diri, nanti 
meluas ke problem anak, problem mantu, cucu dan bahkan tak jarang suami isteri 
yang sudah berusia di atas 60 masih juga disibukkan oleh problem komunikasi 
suami isteri, hingga kakek dan nenek itu bisa meraih kebahagiaan.

Oleh sebab Itu makna bahagia di dalam keluarga berkaitan dengan tingkat problem 
yang dihadapinya. Kebahagiaan sesungguhnya dalam kehidupan keluarga bukan 
ketika akad nikah, bukan pula ketika bulan madu, tetapi ketika pasangan itu 
telah membuktikan mampu mengarungi samudera kehidupan hingga ke pantai tujuan, 
dan di pantai tujuan ia mendapati anak cucu yang sukses dan terhormat. Sungguh 
orang sangat menderita ketika di ujung umurnya menyaksikan anak-anak dan 
cucu-cucunya nya sengsara dan hidup susah, meski perjalanan bahtera rumah 
tangganya penuh dengan kisah keberhasilan. Kebahagiaan di dalam keluarga hadir 
setelah kita mampu mengatasi problem sepanjang kehidupan rumah tangga. Menurut 
hadis Nabi ada empat pilar kebahagiaan dalam mengarungi bahtera rumah tangga 
(1) isteri/suami yang setia (2) anak-anak yang berbakti (3) lingkungan sosial 
yang sehat dan (4) rizkinya dekat. Kesetiaan membuat hati tenang dan bangga, 
anak-anak yang berbakti menjadikannya
 sebagai buah hati, lingkungan sosial yang sehat menghilangkan rasa khawatir 
dan rizki yang dekat merangsang optimisme, idealisme dan kegigihan.

“Filsafat Melankolik tentang Cinta”

MELANKOLIS CINTA
“I am standing in love with you.” begitulah ungkapan yang lebih tepat menurut Erich Fromm, dan bukan “I am falling in love with you”. Melalui artikel ini, saya hendak mendiskusikan persoalan ini secara filosofis.
Sebelumnya saya hendak mengurai apa yang saya pahami dan percayai tentang konsep cinta. Cinta itu cinta ketika dia tidak destruktif. Cinta adalah perasaan keterikatan yang mendalam – ibarat jiwa manusia itu berlapis, mencintai mampu menembusnya; untuk si pecinta atau yang dicintai, sepihak, atau dua belah pihak. Cinta menyatukan kita dengan dunia – si objek cinta dan oranglain sebagai manusia, sekaligus membuat kita juga independen. Kita tidak menjadi budaknya atau penguasanya, tetapi kita menjadi diri kita dalam artian yang sesungguhnya. Singkat kata, cinta memampukan kita merelasikan diri dengan elemen-elemen lain di kosmik ini – apapun manifestasinya – kesadaran internal atau eksternal, mental atau instrumental. Tergantung dari derajat yang tumbuh dalam diri kita ketika mencintai. Cinta idealnya membuat kita produktif sebagai manusia melampaui sekat-sekat yang dibangun oleh produk sosial yang massif. Kita mencipta dengan cinta, alih-alih merusak – terlepas dari apapun, siapapun, dan bagaimanapun objek cinta kita – karena objek cinta kita sendiri juga anasir yang independen.
Dalam hidup ini manusia mencari makna. Buat saya makna itu fragmen hakiki yang dicari oleh manusia ketika dia hidup – tak dari sekedar konformitas atau konsensus yang dibebankan kepadanya, tapi dari ke-diri-annya sebagai individu. Makna ini membuat manusia memahami, pelan-pelan, meski takkan pernah utuh, akan keberadaannya, identitasnya, segala sesuatu yang berada dalam dirinya dan relasinya dengan dunia.
Saya membagi perspektif mencintai ke dalam dua ranah: (1) Realita aktual (hal-hal realistis, fungsional, dan pragmatis) dan (2) Realita potensial (memiliki kecenderungan dan kemampuan untuk terwujud ataupun tidak terwujud karena ada secara inheren, dan abstrak). Keduanya tak sepenuhnya terpisah, karena dalam derajat tertentu kita harus memadukan kedua realita itu.
(1)    Realita Aktual: Pragmatis-Fungsional
Tak terhindarkan bahwa kata ‘cinta’ mengalami komodifikasi, eksploitasi, dan manipulasi sebagai bahan industri budaya massa. Atas nama ‘cinta’ kita digempur oleh lagu-lagu ‘cengeng’, sinetron-sinetron dungu, dsbnya. Cintapun mengalami pendangkalan. Di satu sisi sistem sosial kita telah memapankan institusi, pengakuan, dan formalisasi atas nama cinta – bahwa dua orang yang mencintai harus di’status’kan – menikah, pacaran, tunangan, apapun itu. Dalam tahap ini, cinta mengalami ‘pem-bumi-an’, dan tentu saja hal ini memang perlu.
Ketika kita mencintai, kita tak bisa ‘makan’ cinta – kita harus beradaptasi dengan seperangkat norma dan kebutuhan sosial untuk bertahan. Di satu sisi, muncul anggapan yaitu ketika kita mencinta, kita perlu menuntut hal yang sama dari orang yang kita cintai. Kita harus mencintai dengan imbal balik. Pamrih. Kalau orang itu menolak, maka seperti saklar yang dimatikan, cinta kita bisa lenyap seketika – atau dilenyapkan paksa demi mencegah kita dari terluka.
Pragmatisme pun muncul. Gugatan seperti “Untuk apa saya cinta dia kalau dia tidak pernah ‘memberi’ saya apa-apa?” muncul dalam beragam bentuk, cinta diasumsikan seperti alat barter. Kita beri ke seseorang supaya kita dapat yang kita inginkan, entah barang, atau kata ‘cinta’ dari mulutnya. Cinta yang awalnya dirayakan sebagai sesuatu yang instingtif lalu sekedar menjadi suplemen ketika dihadapkan pada tuntutan konformitas sosial: cinta harus didampingi oleh kemampuan menghasilkan uang (menafkahi), menyediakan fasilitas (barang, rumah, dsbnya), dan memenuhi kebutuhan pokok (makanan, seks, dsbnya). Meski dalam banyak kasus hal ini berjalan baik bagi banyak manusia – setidaknya di permukaan, kadang dengan tuntutan-tuntutan ini dalam perjalanannya cinta mengalami pembusukan dan ‘materialisasi’ karena kegagalan meredefinisi cinta. Akibatnya, cinta bertransformasi menjadi sekedar ilusi, perekat usang, dan bermutasi menjadi destruktif.
Di satu sisi ada argumen bahwa cinta bisa tumbuh seiring dengan terpenuhinya kebutuhan atau kewajiban kita yang lain. Menurut mereka, cinta bisa tumbuh kemudian. Ada juga yang menganggap cinta urusan belakangan yang penting mereka menikah untuk alasan misi keagamaan, kehormatan keluarga, status sosial, atau sokongan finansial. Ada juga yang mencatut embel-embel ‘cinta’ demi sekedar mendapat kepuasan seksual atau status tertentu di lingkungannya.
Dari sini, ‘cinta’ dicatut secara mekanis. Sementara cinta sejati amat mungkin timbul dari proses ini, namun ada konsekuensi yang rada aneh. Ketika sistem perjodohan yang berlangsung lewat mekanisasi ini gagal, si pelamar cinta bisa dengan mudah beralih ke pencarian lain. ”Lamaran saya ditolak si fulan. Bisa tolong carikan yang lain?”
Atau sebaliknya. Ketika seseorang jatuh cinta, dan cintanya tidak berujung pada adanya timbal balik dari si objek cinta atau formalisasi, si pecinta ini jatuh pada keputusasaan, frustrasi, kemarahan, kekecewaan mendalam, atau akhirnya menjadi destruktif. Seringkali hal ini disebabkan karena ketika dia merasakan ’cinta’ maka cinta itu menjadi suplemen pragmatismenya. Dia memberi dan menuntut materialisasi dari cintanya.
Alhasil, dampak dari pragmatisme cinta adalah ketika kita hanya ingin dan berani mencintai kalau ada pamrih, janji, garasi, atau ’uang muka’.
Hal itu sah saja kalau dilihat dari sudut pandang bahwa manusia pada satu level hidupnya menginginkan rasa aman melalui apapun – ”peduli setan” dangkal atau mendalam, yang penting ada stimulus ’bahagia’. Namun untuk tulisan ini saya hendak membagi wacana tentang cinta secara filosofis, yaitu cinta substantif dan transenden. Menurut saya ini prinsipil kalau kita hendak bicara pada level lain dalam hidup manusia, dan saya percaya kedua level realita ini dimungkinkan berjalan simultan.
(2)    Realita Potensial: Substantif-Transenden
Secara garis besar, paparan definitif dalam poin kedua ini sudah saya tulis di awal – yaitu terkait dengan produktivitas, relasi dengan kosmik dan manusia, sekaligus peneguhan independensi kita sebagai individu. Karena itu, saya pikir, ketika kita mencintai secara substantif maka ia menjadi substance – inti terpenting dalam ke-diri-an kita, yang menimbulkan dorongan untuk memberi kepada si objek cinta. Memberi dalam bentuk apapun, karena secara naluriah kita menjadi produktif.
Kita merasa ada bagian dari fragmen di diri kita yang terlengkapi. Kita merasa menemukan makna dari semrawut serpih-serpih hidup kita yang penuh tanda tanya. Kita dikonfrontasikan oleh paradoks: munculnya kebingungan sekaligus jawaban, kepedihan sekaligus kebahagiaan, masa lalu sekaligus masa depan.
Momennya berkisar seputar penundaan sempurna – tiada yang utuh, tunggal, absolut – tapi ada yang membuat kita menyanggupi.
Mencintai itu substantif dalam artian kita berani. Kita berani untuk mencintai tanpa bergantung sepenuhnya pada ekspektasi imbalan. Kita melihat si objek cinta dengan kepedulian dan merecapi rasa cinta sebagai bagian dari kesadaran akan eksistensi kita, dan bukan tumbuh dari materialisme yang mengitari kita. Kita berani untuk menghadapi rasa takut itu – takut ditolak, dilukai, tak terwujud secara institusi, tak diakui, tak bisa memenuhi prasyarat-prasyarat sosial dan material, dsbnya – karena mencintai berada jauh di inti.
Mencintai tak membuat kita mengurung diri di kamar dalam sentimentalisme tanpa akhir. Mencintai justru membuat kita ingin melangkah ke luar dan menyapa kehidupan. Kita akan berkreasi. Secara otomatis dorongan mencintai membuat kita tak bergantung pada suplemen kehidupan, melainkan membuat kita ingin meraihnya. Cintalah yang sebagian menjadi penggerak kita untuk mendapat fasilitas dan hal-hal material dalam hidup, bukan kebalikannya. Mencintai membuat kita emosional, tapi juga rasional. Terkait tapi mandiri. Kita berpikir, tak hanya melamun. Kita berproduksi, tak menuntut konsumsi. Mencintai juga tidak mendehumanisasi, memaksa, maupun menjadikan kita budak. Kita bisa kehilangan rasa cinta ketika sudah terjadi unsur destruktif – baik dari diri kita atau objek cinta kita, dan itu adalah pilihan rasional dan manusiawi.
Mencintai itu transenden dalam artian ia melampaui sekat-sekat yang berada di sekitar kita dan kotak sosial yang kita terkubang di dalamnya. Bukan berarti hal-hal semacam itu tak penting, namun formalisasi dan pengakuan akan cinta kita adalah perayaan sosial – artinya, dirayakan syukur, tidak dirayakan pun tak apa. Cinta substantif hanya dapat dirasakan saat momen transendensi itu meretas dalam pengalaman kita. Kapasitasnya yang inheren di dalam diri kita tak berkurang oleh penolakan maupun ketiadaan pengakuan atau formalisasi. Kekuatan transendennya akan merayakan rasa berbalas, formalisasi, status, pamrih dan fasilitas fisik dan material yang mungkin kita dapat dari si objek cinta, tapi juga akan menyanggupi rasa ‘luka’ – karena mencintai itu sendiri telah menyanggupi kita sebagai individu yang independen.
Dalam tahap ini, elemen-elemen pragmatis tak menjadi prasyarat – karena dia perlahan akan hadir dengan sendirinya – dan yang relevan adalah bahwa kita standing in love, bukan falling in love. Ketika kita mencintai, kita tidak jatuh, melainkan mendampingi dengan kedua kaki kita yang berdiri melampaui apa-apa yang tersekat, terbebankan, dan terkomodifikasi. Cinta eksis dalam perayaan sosial atau dalam kesunyian yang mempesona, mungkin kelam atau tidak. Tapi itulah makna.