Minggu, 01 Januari 2017
MENGENAL DIRI (Siapa Aku?)
Siapa aku ini?
Anda mungkin sering mendengar tentang pentingnya pemahaman akan diri sendiri. Siapa pun memang harus mengenal dirinya sendiri. Namun, pemahaman diri tersebut tidak bisa dicapai dengan mudah. Secara terus-menerus kita harus menggali siapa diri kita, secara mendalam.
Jika hanya sekedar menjawab pertanyaan tentang identitas diri, tempat dan tanggal lahir, alamat, pekerjaan dan sejenisnya, kita mungkin tidak akan mengalami kesulitan. Namun, sebenarnya pahamkah kita terhadap diri kita sendiri? Siapakah kita sebenarnya? Untuk apa kita lahir dan hidup? Seperti apakah kehidupan kita nanti? Dan sebagainya. Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan mendalam tidaklah semudah yang dibayangkan.
Siapakah aku ini?
Jika anda ditanya, "siapakah anda?", tentu akan ada beraneka jawaban dari setiap orang. Untuk membantu menjawab pertanyaan itu, sedikitnya ada etap sudut pandang yang dapat dijadikan landasan.
Dari sudut pandang spiritual setidaknya jawaban yang mungkin adalah sebagai berikut.
Aku adalah makhluk ciptaan Allah yang disebut manusia.
Aku diciptakan Allah sebagai tanda terbesar atas kuasa-Nya di muka bumi.
Aku adalah manusia yang diberi tanggung jawab oleh Allah untuk menjaga, mengolah dunia sehingga berkembang dan berarti bagi kehidupan seluruh makhluk ciptaan Allah.
Berdasarkan agamamu mungkin bisa diberi jawaban.
Sebenarnya ada cukup banyak sudut pandang lain, yang dapat menambah jawaban pertanyaan tentang "siapa diri kita", seperti halnya sudut pandang hukum, ekonomi, atau hak manusia.
Rabu, 28 Desember 2016
Ini Pengertian Salaf, Khalaf dan Sufi
(Foto: Istimewa)
A A A
SALAF secara bahasa Arab artinya setiap amalan shalih yang telah lalu; segala sesuatu yang terdahulu; setiap orang yang telah mendahuluimu, yaitu nenek moyang atau kerabat (Lihat Qomus Al Muhith, Fairuz Abadi). Secara istilah, yang dimaksud salaf adalah 3 generasi awal umat Islam yang merupakan generasi terbaik, seperti yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya (HR. Bukhari-Muslim). Tiga generasi yang dimaksud adalah generasi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat, generasi tabiin dan generasi tabiut tabiin. Sering disebut juga generasi Salafus Shalih.
Kemudian dalam bahasa arab, ada yang dinamakan dengan isim nisbah, yaitu isim (kata benda) yang ditambahkan huruf ya yang di-tasydid dan di-kasroh, untuk menunjukkan penisbatan (penyandaran) terhadap suku, negara asal, suatu ajaran agama, hasil produksi atau sebuah sifat (Lihat Mulakhos Qowaid Al Lughoh Ar Rabiyyah, Fuad Nimah). Misalnya yang sering kita dengar seperti ulama hadits terkemuka Al-Bukhari, yang merupakan nisbah kepada kota Bukhara (nama kota di Uzbekistan) karena Imam Al-Bukhari memang berasal dari sana. Ada juga yang menggunakan istilah Al-Hanafi, berarti menisbahkan diri pada madzhab Hanafi. Maka dari sini dapat dipahami bahwa Salafi maksudnya adalah orang-orang yang menisbatkan (menyandarkan) diri kepada generasi Salafus Shalih. Atau dengan kata lain Salafi adalah mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. (Lihat Kun Salafiyyan Alal Jaddah, hal. 10)
Sehingga dengan penjelasan ini jelaslah bahwa orang yang beragama mengikuti generasi awal umat Islam tadi, dengan sendirinya ia seorang Salafi. Baik dia berasal dari madzhab apapun dan ormas manapun (NU, Muhamadiyah, dst). Jadi salafi bukanlah terbatas kepada sekelompok umat Islam saja, akan tetapi semua muslim yang mengikuti apa yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan generasi setelahnya berhak menyebut dirinya salafi. Sedangkan salafiyah adalah metode/paham ajarannya. Orang yang mengikutinya disebut salafi, sebagaimana dijelaskan di atas.
Kemudian tentang khalaf. Kata khalaf biasanya digunakan untuk merujuk para ulama yang lahir setelah abad III H setelah periode tabiut tabi'in. Ulama-ulama khalaf adalah penerus dakwah tabiut tabi'in. Selanjutnya mengenai Sufi. Istilah Sufi sebenarnya tidak dikenal pada zaman Nabi. Didalam Alquran maupun hadis sendiri kata-kata tersebut secara harfiah tidak ditemukan. Kebanyakan ahli menyatakan bahwa kata-kata tersebut secara lahiriah menunjukan sebutan gelar, sebab dalam perbendaharaan bahasa Arab tidak terdapat akar katanya. Ada beberapa pengertian Sufi, yaitu:
Pertama, kata Sufi berasal dari pembendaraan bahasa Yunani, yaitu diambil dari kata shopia yang berarti kebijaksanaan. Kata tersebut juga dtengarai sebaga asal kata filsafat. Pendapat ini sebenarnya datang dari pada orientalis. Mereka mengatakan ketika orang-orang berfilsafat dalam hal ibadah, mereka mengubahnya menjadi kalimat Sufi, yang kemudian menjadi sebutan bagi kaum yang suka beribadah dan untuk filsafat keagamaan. Jelasnya, sufi adalah sebuah kata yang dinisbatkan dengan filsafat ibadah.
Kedua, Sufi berasal dari kata Shaff , yang berarti barisan. Hal ini dimaksudkan bahwa para Sufi berada pada barisan pertama dihadapan Allah lantaran ketinggian iman dan takwanya. Ketiga, kata Sufi berasal dari kata Sufah. Kata ini merupakan julukan terhadap seorang laki-laki dijaman jahiliyah yang mengabiskan waktu untuk beribadah di sekeliling Ka'bah. Nama asli orang tersebut adalah Ghouts bin Mur. Adapun alasan kata Sufi disandarkan pada kata julukan tersebut adalah karena sisi karakteristik dari kehidupannya sama, yaitu sama-sama menghabiska waktu untuk ibadah.
Keempat, kata Sufi berasal dari kata Shuffah yang kemudian dinisbat den
Peradaban Islam, Sains, dan Khilafah
APA arti peradaban? Peradaban ialah keseluruhan prestasi dan hasil karya suatu bangsa atau masyarakat yang hidup bersama dalam sebuah kota atau negara. Karena itulah peradaban itu identik dengan ‘Madīnah’ atau ‘civitas’ dalam bahasa latin yang mengisyaratkan terjadinya kesepakatan antar berbagai kelompok masyarakat untuk hidup bersama secara aman, damai, dan adil.
Nikmati paket special Beverage Delivery, gratis OngkirPowered By Coca Cola
Maka suku-suku nomad tidak pernah melahirkan peradaban. Begitu pula suku-suku barbarian yang asyik berperang satu sama lain. Nah, prasyarat-prasyarat itulah yang dipenuhi oleh Rasulullah sesudah tinggal di Madinah. Mengikat tali kepentingan berbagai komponen –Arab Khazraj dan Aws, kaum Muhajirin dan Anshar, puak-puak Yahudi, Kristen, dan Majusi– dengan sebuah perjanjian semacam ‘social contract’.
Baru setelah itu kita saksikan peradaban Islam perlahan-perlahan muncul ke permukaan dan menjulang megah di panggung sejarah manusia dengan seabreg prestasi politik, militer, ekonomi, saintifik, kultural, dan sebagainya, yang terpancar dalam karya-karya sastra, filsafat, sains, teknologi, arsitektur, seni rupa, dan banyak lagi.
Mendiang Professor Arberry pernah mengatakan, ketika menjawab pertanyaannya sendiri: “What is meant by the term Islamic civilization?” bahwa peradaban Islam itu lahir dari perjalanan yang sangat panjang dan kekuatan yang sangat dahsyat (the long processes and the massive forces), di mana bangsa-bangsa hebat yang aslinya bermacam-macam dan berbeda-beda telah diikat oleh satu visi, satu misi, satu tradisi, dan satu jalan hidup (a powerful group of nations held closely together in the common bonds of a shared tradition and way of life, despite passing domestic differences). Lihat bukunya: Aspects of Islamic Civilization as Depicted in the Original Texts, hlm. 9 (London: Routledge, 1964).
Definisi yang lebih tegas diberikan oleh Profesor al-Attas dalam bukunya, Historical Fact and Fiction (Johor Bahru: Universiti Teknologi Malaysia Press, 2011), hlm. xv: “I define Islamic civilization as a civilization that emerges among the diversity of cultures of Muslim peoples of the world as a result of the permeation of the basic elements of the religion of Islam which those peoples have caused to emerge from within themselves. … It is a living civilization whose pulse describes a process of Islamization, … in the sense of an unfolding of the theoretical and practical principles of Islam in the life of the people, in the sense of an actualization of the essentials and potentials of Islam in the realms of existence. … Islamic civilization is therefore a manifestation of unity in diversity as well as of diversity in unity.”
Intinya bahwa Peradaban Islam itu adalah hasil dari proses kolektif-selektif-kreatif yang dinamakan Islamisasi. Sumber energinya adalah wahyu –yakni Kitābullāh dan Sunnah Rasululullah. Ini internalnya, sementara eksternalnya dari peradaban-peradaban asing. Terjadilah pengambilan, pengumpulan, penyaringan, dan rekacipta. Namun, unsur-unsur asing itu tidak hanya di-adopsi, tetapi juga di-adapsi, diterima dan diubah agar tidak bertentangan dengan tata nilai atau ‘worldview’ Islam. Maka peradaban Islam itu merupakan paduan keberagaman dan keberagaman terpadu, kata al-Attas.
Peradaban Islam saat ini memang tidak seperti dulu, karena umat Islam sedang terpecah-pecah menjadi banyak negara yang masing-masing punya pemerintahan dan kepentingan sendiri, ideologi dan visi sendiri-sendiri, di mana nasionalisme dikedepankan, sekularisme diutamakan, komunisme dirayakan, kapitalisme diterapkan, dan liberalisme ditanamkam. Umat Islam hanya tampak menyatu ketika tawaf di Ka‘bah atau wukuf di Arafah. Sementara di PBB jarang kompak. Dalam banyak isu lebih sering tidak sepakat.
Peradaban Islam saat ini ibarat piramid yang masih berdiri tegak namun banyak dindingnya mengalami erosi sejak lima ratus tahun
Teladan Pancasila
Pancasila bukanlah suatu lukisan yang sekadar enak dipandang, tetapi juga, menarik untuk diketahui lebih jauh makna filosofisnya. Pancasila, karena indahnya itu, dari dulu hingga sekarang, tetaplah cantik dan mengasyikan apabila dijadikan sebuah bahan perbincangan.
Pada era kemerdekaan, Bung Karno, menyebar-nyebarkan benih bahwa Pancasila adalah penuntun jalan bagi Indonesia dalam mengarungi bahtera hidup berkebangsaan. Soeharto kemudian melegalisasi dengan P4 atau dikenal lebih dengan sebutan Eka Prasetya Pancakarsa. P4 sendiri adalah kependekan dari Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila.
Di era global, Pancasila kemudian direduksi dan dicatut sebagai suatu hal yang mempengaruhi munculnya istilah Revolusi Mental. Revolusi Mental sendiri adalah sebuah gerakan perubahan tingkah laku menuju manusia paripurna, katanya.
Namun, miris bukan kepayang, semua hal itu belumlah menjadi nyawa dalam ruh-ruh manusia Indonesia. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak mampu untuk membendung kekerasan atas nama agama. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab belum bisa mengentikan penzaliman. Sila Persatuan Indonesia tak kunjung memberikan damai dalam pengaminnya. Sila permusyawaratan hanya sampai pada pemahaman suara mayorokrasi. Sila keadilan sosial belum jua mengikis yang ‘tajam ke bawah dan tumpul ke atas’.
Sekadarnya, Pancasila yang sakral itu kini hanya dikenal dalam balutan upacara bendera setiap hari Senin. Dibacakan dan lalu dilupakan, singkatnya. Pancasila yang agung itu sekedar sebagai sebuah pampangangan yang nganggur di ruang-ruang kantor Camat.
Apa itu Pancasila?
Jika sebatas kalimat sila, kita tidak perlu lagi menjabarkannya. Selain terlalu panjang, cukup memakan waktu juga karena memberitahu apa yang sudah sewajibnya diketahui. Karena itu, jawaban mengenai “apa itu Pancasila” akan diarahkan lebih kepada aspek dan pembentukannya.
Suatu malam menjelang 1 Juni 1945, dikabarkan bahwa Soekarno tidak bisa tidur. Dia mondar-mandir, sliwar-sliwer melamunkan suatu dasar negara yang tidak hanya bisa digunakan untuk “satu, lima atau sepuluh tahun sahaja, tetapi suatu dasar negara yang digunakan untuk selama-lamanya.....”
Kata Yudi Latif, hal yang akan dilakukan Soekarno esok hari itu amatlah berisiko betul. Hal itu ditengarai oleh sebab perbedaan pandangan yang tajam dan juga pada waktu itu Jepang belum sepenuhnya ikhlas melihat Indonesia merdeka. Tetapi Soekarno tidak gentar, dia katakan pada dirinya sendiri “saya tahu risikonya, sebagai seorang pemimpin, tunaikan kewajibanmu, jangan pernah hitung-hitung akibatnya !!!!”
Dari situ kita dapat mengambil pelajaran pertama, bahwasanya Pancasila lahir dalam penghayatan yang tulus. Pancasila tumbuh bukan oleh keadaan yang terpaksa tetapi dengan bertunas penuh keyakinan yang besar. Dan, Pancasila sebagai jati diri yang tidak fakultatif tetapi absoulut atau kudu.
Pancasila, jelas sekali disitu, bukan sebuah pledoi. Pancasila juga, dalam mozaik kisah tersebut, bukan sebuah konfrontasi. Pancasila, senyatanya, adalah alat pemersatu yang kata Bung Karno “digali dari nilai luhur yang terjauh di Indonesia”.
Inti pokok Pancasila
Setelah merunutkan napas, eloklah sudah kita merinci setiap inti pasalnya.
Yang pertama, sebelum pada akhirnya menjadi sususan seperti saat ini dimana ayat pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan terakhir “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, Pancasila mengawali pesan heroiknya dengan Nasionalisme. Nasionalisme bagi Bung Karno penting, karena hanya rasa kebangsaan adalah pemersatu suku-suku dan budaya serta lainnya.
Butir kedua, Soekarno mencatut Ghandi soal nasionalisme yang bertumpu pada kemanusiaan.
Berlanjut yang ketiga, kemanusiaan itu menuntut suatu penyadaran. Penyadaran Pancasila mirip seperti penyadaran dalam arti Hans Khung, yaitu, pertama: jangan melakukan apa yang tidak ingin orang lakukan kepadamu. Kedua: cintailah sesamu seperti engkau mencintai diri
Kehidupan & Manusia
Kehidupan adalah ciri yang membedakan objek yang memiliki isyaratdan proses penopang diri 9organisme hidup; dengan objek yang tidak memilikinya, baik karena fungsi-fungsi tersebut telah mati atau karena mereka tidak memilikifungsi tersebut dan diklasifikasikan sebagai benda mati.(anusia secara bahasa berasal dari kata =manu> 9Sansekerta;, =mens>9Oatin;, yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi9mampu menguasai makhluk lain;. (anusia merupakan Koon politicon yang berarti bahwa manusia itu sebagai makhluk pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia lainnya, jadi makhluk yang suka bermasyarakat. Dan oleh karena sifatnya suka bergaul satu sama lain, makamanusia disebut makhluk social. ?akikat manusia yaitu makhluk yang memilikitenga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, indi@idu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atastingkah laku intelektual dan social, yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuanyang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukannasibnya, makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembangtidak pernah selesai 9tuntas; selama hidupnya, indi@idu yang dalam hidupnya selalumelibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantuorang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati, suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas, makhluk &uhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandungkemungkinan baik dan jahat, indi@idu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan
turutama lingkungan sosial bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai denganmartabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.Sehingga, kehidupan manusia adalah segala proses dan akti@itas yangdilakukan manusia selama ia masih hidup. roses merujuk pada pertumbuhanmanusia dari ia lahir hingga ia meninggal, sedangkan akti@itas merujuk padakegiatan yang dilakukan manusia selama ia hidup sejak lahir sampai meninggal.
Pengaruh Filsafat Terhadap Kehidupan Manusia
Bagi manusia, berfilsafat berarti mengatur hidup yang senetral-netralnyadengan perasaan tanggung jawab, yaitu tanggung jawab terhadap dasar hidup yangsedalam-dalamnya, baik &uhan, alam, atau pun kebenaran. adhakrishnan dalam bukunya, ?istory of hilosophy, menyebutkan &ugas filsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju.Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukanarah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinankepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yangmenjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan nationM, ras, dan keyakinankeagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan.Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak uni@ersal, baik dalamruang lingkupnya maupun dalam semangatnya. Studi filsafat harus membantuorang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matangsecara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang,asal kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang,yang sempit dan yang dogmatis. Urusan 9concerns; utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pe
Hasan Ibn al-Haytham
(Alhazen)
Alhazen (Ibn al-Haytham)
Lahir kr. 965 CE[1](354 AH)[2]
Basra, Buyid Emirate
Meninggal
[[{{{3}}} Parameter salah (harus 1 — 12)]] [[1040
]] (umur Kesalahan ekspresi: Operator < tak terduga) (75 tahun)[3](430 AH)[4]
Cairo, Fatimid Caliphate
Tempat tinggal
Basra Cairo
Bidang
Optics Astronomy Mathematics
Dikenal karena Book of Optics, Doubts Concerning Ptolemy, Alhazen's problem, Analysis,[5] Catoptrics,[6] Horopter, Moon illusion, experimental science, scientific methodology,[7] visual perception, empirical theory of perception, Animal psychology[8]
Dipengaruhi Aristotle, Euclid, Ptolemy, Galen, Banū Mūsā, Thābit ibn Qurra, Al-Kindi, Ibn Sahl, Abū Sahl al-Qūhī
Memengaruhi Omar Khayyam, Taqi ad-Din Muhammad ibn Ma'ruf, Kamāl al-Dīn al-Fārisī, Averroes, Al-Khazini, John Peckham, Witelo, Roger Bacon[9]
Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham (Bahasa Arab:ابو علی، حسن بن حسن بن الهيثم) atau Ibnu Haitham (Basra,965 - Kairo 1039), dibarat lebih dikenal dengan nama Alhazen. Adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia banyak pula melakukan penelitian mengenai cahaya, dan telah memberikan banyak inspirasi pada ahli sains barat, seperti Roger Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop..
ILMU-ILMU YANG MENDASARI IJTIHAD
Ilmu-ilmu iktisabi atau kasbi (yang diperoleh lewat pencarian) sebagai dasar ijtihad adalah sebagai berikut:
1. Bahasa (gramatika seperti Nahwu dan Sharf) dan sastra Arab (seperti Balaghah yang terdiri dari ilmu Bayan, Ma'ani, Badi').
Ilmu Sharf adalah ilmu tentang perubahan bentuk sesuai dengan waktu; lampau, sedang (berlangsung), perintah, kata kerja, kata pelaku dan sebagainya. Ilmu Nahwu adalah ilmu tentang perubahan akhir huruf setiap kata (dan jumlah kata) seperti mubtada', fa'il, dan sebagainya, serta perbedaan-perbedaan pendapat menyangkut masalah-masalah penting di dalamnya. Ilmu Balaghah adalah ilmu kesusasteraan. Ilmu Bayan adalah ilmu cabang dari ilmu Balaghah yang mempelajari cara berkomunikasi dan tutur kata supaya dipahami dengan sempurna. Ilmu Ma'ani adalah ilmu yang mengajarkan teknik memperindah bahasa dan kata, bersyair, menyusun puisi dan sebagainya.
Ilmu Bahasa dan Satra Arab sangat diperlukan calon mujtahid, mengingat sebagian besar hukum syari'at hanya dapat ditemukan dan disimpulkan melalui pemahaman dan penguasaan arti yang tersurat (lahiriah) atau yang tersirat (batiniyah) dari ayat-ayat Al Qur'an dan riwayat-riwayat hadits. Bahasa Arab -sebagaimana bahasa-bahasa lain- sebagai media komunikasi populerjuga tidak terlepas dari kontaminasi. Dengan demikian ilmu Bahasa dan Satra Arab wajib dipelajari dan dikuasai calon mujtahid, siapa pun dia, bangsa arab atau bukan.
2. Ushulul-Fiqh (ilmu dasar-dasar penyimpulan hukum).
Ilmu dasar-dasar hukum syari'at ini dalam syllogisme demonstrable (al qiyas al burhani) terletak sebagai proposisi mayor (al qadhiyah al kubra), sebagaimana telah dijelaskan dalam ilmu logika (manthiq). Ilmu inilah yang menentukan benar atau tidaknya suatu teks riwayat yang akan digunakan sebagai dasar penyimpulan hukum. Ilmu ini bersifat shopistik dan tidak mengandung arti.
3. Ilmu Dirayah (ilmu tentang riwayat serta kategori-kategorinya) dan ilmu Rijal (ilmu tentang identitas para pembawa riwayat).
Karena sebagian besar riwayat-riwayat yang mengisi khazanah periwayatan umat (Imamiah) termasuk dalam kategori ahad (periwayatan individual) dan bukan kategori mutawatir (periwayatan kolektif) baik dari segi matn (teks) maupun sanad (perawi), maka calon mujtahid harus menguasai ilmu rijal dan ilmu dirayah.
Studi terhadap riwayat dan berbagai macamnya secara mendasar sangat diperlukan karena secara global didapati adanya riwayat yang tidak sahih dalam khazanah hadits umat Islam. Bila seorang mujtahid telah mengetahui secara rinci dan mendapat kemantapan akan keshahihan sebuah (beberapa) riwayat, maka dia bisa menjadikannya sebagai sumber penyimpulan hukum syar'i. setelah memastikannya sebagai ucapan Nabi atau Imam.
4. Ilmu Manthiq (Logik), yaitu ilmu tentang teknik berfikir yang benar.
Seorang faqih sangat perlu mengetahui beberapa pembahasan ilmu ini yang erat kaitannya dengan tujuan penyimpulan, seperti pembahasan-pembahasan mengenai syllogisme demonstrable (al qiyas al burhani), pembahasan tentang pembagian dan sebagainya.
5. Ilmu Matematika.
Ayatollah Muhammad Baqir Shadr mengategorikan sebagai salah satu landasan ijtihad. Dalam bukunya yang berjudul "Al Ushul Al Manthiqiyah Li Al Istiqra" (dasar-dasar rasional induksi) beliau memasukkan hitungan perkiraan-perkiraan matematika rasional dalam pembahasan-pembahasan ushul, seperti pembahasan-pembahasan tentang ijma', syuhrah dan sebagainya. Itulah sebabnya, dimasa mendatang Ilmu Matematika akan menjadi salah satu ilmu yang mendasari ijtihad, insya Allah.
Tindakan Sayyid Muhammad Baqir Shadr ini mirip dengan langkah Al Muhaqqiq Husein Al Khunsari (wafat tahun 1098 H) yang memasukkan pemikiran-pemikiran filosofis Islam ke dalam pembahasan-pembahasan Ushul-Fiqh, dalam bukunya " Al Masyariq Asy-sumus fi Syarhi Ad Durus". Pada awalnya buku itu mendapat kritikan dari para pendukungnya yang kemudian mereka kembangkan hingga menjadi konsensus dan disahkan.
Kelima macam ilmu diatas merupakan unsur-un
Langganan:
Postingan (Atom)