Minggu, 01 Januari 2017


SEJARAH PEMBANGUNAN KABAH DARI AWAL SAMPAI SAAT INI

Beberapa buku sejarah menyebutkan bahwa yang pertama kali membangun Kabah adalah para malaikat, ada juga yang berpendapat Nabi Adam `alaihissalam dan ada juga yang berkata: Allahlah yang menciptakannya 2000 tahun sebelum menciptakan bumi, kemudian menciptakan bumi dari bawahnya. Sebagaimana beberapa rujukan menyebutkan juga bahwa Ka'bah dibangun beberapa kali, namun yang terbukti di antaranya adalah lima kali, yaitu: pembangunan Ibrahim `alaihissalam bersama anaknya Ismail, pembangunan Quraisy, pembangunan Abdullah bin Zubair radhiyallahu 'anhuma. pembangunan Hajjaj bin Yusuf ats Tsaciafi dan pembangunan Sulthan Murad Khan Al Utsmani.

Pembangunan Kabah Oleh Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s

Nabi Ibrahim shallallahu 'alahi wa sallam telah membangun Ka'bah al Musyarrafah atas perintah Allah, bangunannya dari batu, tingginya 9 hasta (4,5m), panjangnya dari arah timur 32 hasta (16 m), dari arah barat 31 hasta (15,5m), dari arah selatan 20 hasta (10m) dan dari arah selatan 22 hasta (11m).

Dia tidak membuat atap untuk Ka'bah, dia membuka dua pintu yang sejajar dengan tanah tanpa ada daun pintu yang menutup, dan membangun di utaranya anjang-anjang sebagai kandang untuk kambing Ismail, yaitu yang disebut dengan Hijir, dan malaikat Jibril 'alaihissalam turun dengan Hajar Aswad dan Ibrahim meletakkannya di tempatnya.


Pembangunan Kabah Oleh Kaum Quraisy

Disebutkan dalam buku-buku sejarah bahwa seorang wanita meng'asapi Ka'bah dengan dupa, maka percikan api dari tempat membakar dupa yang dia bawa terbang sehingga membakar kiswah Ka'bah, dan datanglah banjir besar yang masuk ke Ka'bah, sehingga temboknya pecah, kaum Quraisy ketakutan menghadapi hal ini dan bertekad untuk memperbaharui bangunan Ka'bah, hal itu terjadi 6 tahun sebelum diutusnya Nabi shallallahu talahi wa sallam.

Mereka mensyaratkan bahwa tidak boleh memasukkan hada haram dalam bangunan Ka'bah, namun mereka kehabisan hada yang halal untuk menyelesaikan bangunan Kabah, maka mereka mengurangi bangunan ka'bah dari arah Hijir sepanjang 6 hasta dan sejengkal (3 meter lebih sedikit).



Mereka melingkarinya dengan tembok pendek agar orang-orang berthawaf dari belakangnya. Mereka membuat beberapa perubahan: menambah tingginya sampai 19 hasta (9m), membuat atap untuknya yang sebelumnya tidak beratap, membuat pancuran atap dari kayu, menutup pintu yang di arah barat. meninggikan Pintu Timur dari tanah, sehingga mereka rnemperbolehkan masuk siapa yang mereka kehendaki dan melarang siapa yang mereka kehendaki, dan Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam turut serta dalarn pembangunan Kabah, beliau ikut mengangkat bebatuan dan tatkala mereka usai dari pembangunan dan hendak meletakkan Hajar Aswad, terjadi pertengkaran di antara Quraisy, setiap kabilah ingin mendapatkan kemuliaan meletakkan Hajar Aswad di tempat, akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan penengah di antara mereka orang pertama yang masuk ke Masjidil Haram, dan ternyata yang pertama masuk adalah Nabi shallallahu 'alahi wa sallam maka beliau mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya di tengah kain selendang dan menyuruh setiap kabilah untuk memegang ujung-ujungnya, maka mereka mengangkatnya dan Nabi shallallahu 'alahi wa sallam meletakkannya di tempatnya semula. Dengan cara itu Nabi shallallahu 'alahi wa sallam memutuskan pertikaian yang hampir memecah belah Quraisy serta akan membahayakan kehidupanbanyak orang dari mereka.

Pembangunan Kabah Oleh Abdullah Bin Zubair r.a

Di tahun 64 H/ 683 M Yazid bin Mu'awiyah mengirim pasukan dengan pimpinan Hushain bin Namir untuk memerangi AbduIlah bin Zubair, maka mereka mengepung Mekah dan melemparinya dengan manjaniq sehingga berdampak kepada bangunan Ka'bah, bangunannya terbakar dan tembok-temboknya rusak, dan setelah 27 hari dari masa pengepungan Yazid wafat, maka pasukannya kembali ke Syam dan tidak memasuki Mekah, dan kekuasaan di Mekah berada di tangan ibnu Zubair, maka dia memutuskan unt

SEJARAH KERAJAAN TARUMANEGARA: KEHIDUPAN POLITIK, SOSIAL, EKONOMI DAN BUDAYA


  Kerajaan Tarumanegara

   Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan bercorak Hindu yang terletak di Jawa Barat. Kerajaan ini diperkirakan berkembang antara 400 - 600 M. Salah seorang rajanya yang terkenal bernama Purnawarman. Pengaruh India melalui penggunaan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa dalam kehidupan kerajaan ini sangat kuat, khususnya dalam kehidupan keraton.

   Bukti keberadaan Kerajaan Taruma  diketahui melalui sumber - sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan lima di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Sedangkan sumber - sumber dari luar negeri yang berasal dari berita Tiongkok antara lain : Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang dari To-lo-mo yang terletak di sebelah selatan. Dari berita tersebut para ahli menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian katanya sama dengan Tarumanegara.

   A. Kehidupan Politik

   Raja Purnawarman adalah raja besar yang telah berhasil meningkatkan kehidupan rakyatnya. Hal ini dibuktikan dari prasasti Tugu yang menyatakan Raja Purnawarman telah memerintah untuk menggali sebuah kali. Penggalian sebuah kali ini sangat besar artinya, karena pembuatan kali ini merupakan pembuatan saluran irigasi untuk memperlancar pengairan sawah - sawah pertanian rakyat. Adapun untuk peninggalan - peninggalan prasasti di Kerajaan Tarumanegara antara lain adalah :

   1) Prasasti Ciaruteun

   Prasasti Ciaruteun ditemukan di tepi sungai Ciarunteun, dekat muara sungai Cisadane Bogor. Prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta.

   Di samping itu terdapat lukisan semacam laba - laba serta sepasang telapak kaki Raja Purnawarman. Gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun mempunyai 2 arti yaitu : Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut. Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan dan eksistensi seseorang sekaligus penghormatan sebagai dewa.

   2) Prasasti Jambu

   Prasasti Jambu ditemukan di bukit Koleangkak di perkebunan jambu, sekitar 30 km sebelah barat Bogor, prasasti ini juga menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa serta terdapat gambar telapak kaki yang isinya memuji pemerintahan raja purnawarman.

   3) Prasasti Kebon Kopi

   Prasasti Kebon kopi ditemukan di kampung Muara Hilir kecamatan Cibungbulang Bogor. Prasasti ini adalah lukisan tapak kaki gajah, yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata, yaitu gajah tunggangan dewa Wisnu.

   4) Prasasti Muara Cianten

   Prasasti Muara Cianten, ditemukan di Bogor, tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca. Di samping tulisan terdapat lukisan telapak kaki.

   5) Prasasti Pasir Awi

   Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Leuwiliang, juga tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca.

   6) Prasasti Cindanghiyang

   Prasasti Cindanghiyang atau prasasti Lebak, ditemukan di kampung lebak di tepi sungai Cindanghiang, kecamatan Muncul kabupaten pandeglang Banten. Prassasti ini baru ditemukan tahun 1947 dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian Raja Purnawarman.

   7) Prasasti Tugu

   Prasasti Tugu di temukan di daerah Tugu, kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang melingkar dan isinya paling panjang dibanding dengan prasasti Tarumanegara yang lain sehingga ada beberapa hal yang dapat diketahui dari prasasti tersebut. Hal - hal yang dapat diketahui dari prasasti Tugu adalah Prasasti Tugu menyebutkan nama dua buah sungai yang terkenal di Punjab yaitu sungai Chandrabaga dan Gomati.

   Dengan adanya keterangan dua buah sungai tersebut menimbulkan tafsiran dari para sarjana salah satunya menurut Poerbatjaraka. Secara Etimologi sungai Chandrabaga diartikan sebagai

Pengantar Dasar Matematika

1. Definisi Matematika
Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema
yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika dalam
bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya
berkaitan dengan penalaran.
Ada yang berpendapat bahwa Matematika berasal dari bahasa Yunani mathematika yaitu studi besaran, struktur, ruang, relasi, perubahan, dan beraneka topik pola, bentuk, dan entitas. Dalam pandangan formalis, matematika adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur abstrak menggunakan logika simbolik dan notasi matematika; pandangan lain tergambar dalam filsafat matematika. Para matematikawan merumuskan konjektur dan kebenaran baru melalui deduksi yang menyeluruh dari beberapa aksioma dan definisi yang dipilih dan saling bersesuaian.

2. Karakteristik Matematika
Ciri utama matematika adalah sebagai berikut:
a. Berpola pikir Deduktif namun pembelajaran dan pemahaman konsep dapat diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi.
b. Memiliki Kajian Objek Abstrak.
c. Bertumpu Pada Kesepakatan.
d. Memiliki Simbol yang Kosong dari Arti. Rangkaian simbol-simbol dapat membentuk model matematika.
e. Memperhatikan Semesta Pembicaraan. Konsekuensi dari simbol yang kosong dari arti adalah diperlukannya kejelasan dalam lingkup model yang dipakai.
f. Konsisten Dalam Sistemnya. Dalam matematika terdapat banyak sistem. Ada yang saling terkait dan ada yang saling lepas. Dalam satu sistem tidak boleh ada kontradiksi. Tetapi antar sistem ada kemungkinan timbul kontradiksi.

3. Sistem dan Struktur dalam Matematika
Disiplin utama dalam matematika didasarkan pada kebutuhan perhitungan dalam perdagangan, pengukuran tanah dan memprediksi peristiwa dalam astronomi. Ketiga kebutuhan ini secara umum berkaitan dengan ketiga pembagian umum bidang matematika: studi tentang struktur, ruang dan perubahan.
Pelajaran tentang struktur dimulai dengan bilangan, pertama dan yang sangat umum adalah bilangan natural dan bilangan bulat dan operasi arimetikanya, yang semuanya itu dijabarkan dalam aljabar dasar.
Ilmu tentang ruang berawal dari geometri, yaitu geometri Euclid dan trigonometri dari ruang tiga dimensi, kemudian belakangan juga digeneralisasi ke geometri Non-euclid yang memainkan peran sentral dalam teori relativitas umum. Mengerti dan mendeskripsikan perubahan pada kuantitas yang dapat dihitung adalah suatu yang biasa dalam ilmu pengetahuan alam, dan kalkulus dibangun sebagai alat untuk tujauan tersebut. Konsep utama yang digunakan untuk menjelaskan perubahan variabel adalah fungsi. Banyak permasalahan yang berujung secara alamiah kepada hubungan antara kuantitas dan laju perubahannya, dan metoda untuk memecahkan masalah ini adalah topik dari persamaan differensial. Untuk merepresentasikan kuantitas yang kontinu digunakanlah bilangan riil, dan studi mendetail dari sifat-sifatnya dan sifat fungsi nilai riil dikenal sebagai analisis riil. Untuk beberapa alasan, amat tepat untuk menyamaratakan bilangan kompleks yang dipelajari dalam analisis kompleks.
Agar menjelaskan dan menyelidiki dasar matematika, bidang teori pasti, logika matematika dan teori model dikembangkan. Bidang-bidang penting dalam matematika terapan ialah statistik, yang menggunakan teori probabilitas sebagai alat dan memberikan deskripsi itu, analisis dan perkiraan fenomena dan digunakan dalam seluruh ilmu.

4. Menentukan Kebenaran dalam Matematika
Ada dua teori tentang kebenaran dalam Matematika, yaitu teori korespondensi dan teori koherensi.
a. Teori Korespondensi
Teori korespondensi (the correspondence theory of truth) menunjukkan bahwa suatu pernyataan akan bernilai benar jika hal-hal yang terkandung di dalam pernyataan tersebut sesuai atau cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Contoh, “Semua manusia akan mati,” merupakan suatu pernyataan yang bernilai benar karena kenyataannya memang demikian.
b. Teori Koherensi
Teori koherensi menyatakan bahwa suatu kalimat akan bernilai benar jika pernyataan yan

MENGENAL DIRI (Siapa Aku?)
Siapa aku ini?

Anda mungkin sering mendengar tentang pentingnya pemahaman akan diri sendiri. Siapa pun memang harus mengenal dirinya sendiri. Namun, pemahaman diri tersebut tidak bisa dicapai dengan mudah. Secara terus-menerus kita harus menggali siapa diri kita, secara mendalam.
Jika hanya sekedar menjawab pertanyaan tentang identitas diri, tempat dan tanggal lahir, alamat, pekerjaan dan sejenisnya, kita mungkin tidak akan mengalami kesulitan. Namun, sebenarnya pahamkah kita terhadap diri kita sendiri? Siapakah kita sebenarnya? Untuk apa kita lahir dan hidup? Seperti apakah kehidupan kita nanti? Dan sebagainya. Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan mendalam tidaklah semudah yang dibayangkan.
Siapakah aku ini?

Jika anda ditanya, "siapakah anda?", tentu akan ada beraneka jawaban dari setiap orang. Untuk membantu menjawab pertanyaan itu, sedikitnya ada etap sudut pandang yang dapat dijadikan landasan.
Dari sudut pandang spiritual setidaknya jawaban yang mungkin adalah sebagai berikut.
Aku adalah makhluk ciptaan Allah yang disebut manusia.
Aku diciptakan Allah sebagai tanda terbesar atas kuasa-Nya di muka bumi.
Aku adalah manusia yang diberi tanggung jawab oleh Allah untuk menjaga, mengolah dunia sehingga berkembang dan berarti bagi kehidupan seluruh makhluk ciptaan Allah.
Berdasarkan agamamu mungkin bisa diberi jawaban.
Sebenarnya ada cukup banyak sudut pandang lain, yang dapat menambah jawaban pertanyaan tentang "siapa diri kita", seperti halnya sudut pandang hukum, ekonomi, atau hak manusia.

Rabu, 28 Desember 2016



Ini Pengertian Salaf, Khalaf dan Sufi
   

(Foto: Istimewa)


A A A
SALAF secara bahasa Arab artinya setiap amalan shalih yang telah lalu; segala sesuatu yang terdahulu; setiap orang yang telah mendahuluimu, yaitu nenek moyang atau kerabat (Lihat Qomus Al Muhith, Fairuz Abadi). Secara istilah, yang dimaksud salaf adalah 3 generasi awal umat Islam yang merupakan generasi terbaik, seperti yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya (HR. Bukhari-Muslim). Tiga generasi yang dimaksud adalah generasi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat, generasi tabiin dan generasi tabiut tabiin. Sering disebut juga generasi Salafus Shalih.

Kemudian dalam bahasa arab, ada yang dinamakan dengan isim nisbah, yaitu isim (kata benda) yang ditambahkan huruf ya yang di-tasydid dan di-kasroh, untuk menunjukkan penisbatan (penyandaran) terhadap suku, negara asal, suatu ajaran agama, hasil produksi atau sebuah sifat (Lihat Mulakhos Qowaid Al Lughoh Ar Rabiyyah, Fuad Nimah). Misalnya yang sering kita dengar seperti ulama hadits terkemuka Al-Bukhari, yang merupakan nisbah kepada kota Bukhara (nama kota di Uzbekistan) karena Imam Al-Bukhari memang berasal dari sana. Ada juga yang menggunakan istilah Al-Hanafi, berarti menisbahkan diri pada madzhab Hanafi. Maka dari sini dapat dipahami bahwa Salafi maksudnya adalah orang-orang yang menisbatkan (menyandarkan) diri kepada generasi Salafus Shalih. Atau dengan kata lain Salafi adalah mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. (Lihat Kun Salafiyyan Alal Jaddah, hal. 10)

Sehingga dengan penjelasan ini jelaslah bahwa orang yang beragama mengikuti generasi awal umat Islam tadi, dengan sendirinya ia seorang Salafi. Baik dia berasal dari madzhab apapun dan ormas manapun (NU, Muhamadiyah, dst). Jadi salafi bukanlah terbatas kepada sekelompok umat Islam saja, akan tetapi semua muslim yang mengikuti apa yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan generasi setelahnya berhak menyebut dirinya salafi. Sedangkan salafiyah adalah metode/paham ajarannya. Orang yang mengikutinya disebut salafi, sebagaimana dijelaskan di atas.

Kemudian tentang khalaf. Kata khalaf biasanya digunakan untuk merujuk para ulama yang lahir setelah abad III H setelah periode tabiut tabi'in. Ulama-ulama khalaf adalah penerus dakwah tabiut tabi'in. Selanjutnya mengenai Sufi. Istilah Sufi sebenarnya tidak dikenal pada zaman Nabi. Didalam Alquran maupun hadis sendiri kata-kata tersebut secara harfiah tidak ditemukan. Kebanyakan ahli menyatakan bahwa kata-kata tersebut secara lahiriah menunjukan sebutan gelar, sebab dalam perbendaharaan bahasa Arab tidak terdapat akar katanya. Ada beberapa pengertian Sufi, yaitu:


Pertama, kata Sufi berasal dari pembendaraan bahasa Yunani, yaitu diambil dari kata shopia yang berarti kebijaksanaan. Kata tersebut juga dtengarai sebaga asal kata filsafat. Pendapat ini sebenarnya datang dari pada orientalis. Mereka mengatakan ketika orang-orang berfilsafat dalam hal ibadah, mereka mengubahnya menjadi kalimat Sufi, yang kemudian menjadi sebutan bagi kaum yang suka beribadah dan untuk filsafat keagamaan. Jelasnya, sufi adalah sebuah kata yang dinisbatkan dengan filsafat ibadah.

Kedua, Sufi berasal dari kata Shaff , yang berarti barisan. Hal ini dimaksudkan bahwa para Sufi berada pada barisan pertama dihadapan Allah lantaran ketinggian iman dan takwanya. Ketiga, kata Sufi berasal dari kata Sufah. Kata ini merupakan julukan terhadap seorang laki-laki dijaman jahiliyah yang mengabiskan waktu untuk beribadah di sekeliling Ka'bah. Nama asli orang tersebut adalah Ghouts bin Mur. Adapun alasan kata Sufi disandarkan pada kata julukan tersebut adalah karena sisi karakteristik dari kehidupannya sama, yaitu sama-sama menghabiska waktu untuk ibadah.

Keempat, kata Sufi berasal dari kata Shuffah yang kemudian dinisbat den

Peradaban Islam, Sains, dan Khilafah

APA arti peradaban? Peradaban ialah keseluruhan prestasi dan hasil karya suatu bangsa atau masyarakat yang hidup bersama dalam sebuah kota atau negara. Karena itulah peradaban itu identik dengan ‘Madīnah’ atau ‘civitas’ dalam bahasa latin yang mengisyaratkan terjadinya kesepakatan antar berbagai kelompok masyarakat untuk hidup bersama secara aman, damai, dan adil.

 Nikmati paket special Beverage Delivery, gratis OngkirPowered By Coca Cola


Maka suku-suku nomad tidak pernah melahirkan peradaban. Begitu pula suku-suku barbarian yang asyik berperang satu sama lain. Nah, prasyarat-prasyarat itulah yang dipenuhi oleh Rasulullah sesudah tinggal di Madinah. Mengikat tali kepentingan berbagai komponen –Arab Khazraj dan Aws, kaum Muhajirin dan Anshar, puak-puak Yahudi, Kristen, dan Majusi– dengan sebuah perjanjian semacam ‘social contract’.

Baru setelah itu kita saksikan peradaban Islam perlahan-perlahan muncul ke permukaan dan menjulang megah di panggung sejarah manusia dengan seabreg prestasi politik, militer, ekonomi, saintifik, kultural, dan sebagainya, yang terpancar dalam karya-karya sastra, filsafat, sains, teknologi, arsitektur, seni rupa, dan banyak lagi.

Mendiang Professor Arberry pernah mengatakan, ketika menjawab pertanyaannya sendiri: “What is meant by the term Islamic civilization?” bahwa peradaban Islam itu lahir dari perjalanan yang sangat panjang dan kekuatan yang sangat dahsyat (the long processes and the massive forces), di mana bangsa-bangsa hebat yang aslinya bermacam-macam dan berbeda-beda telah diikat oleh satu visi, satu misi, satu tradisi, dan satu jalan hidup (a powerful group of nations held closely together in the common bonds of a shared tradition and way of life, despite passing domestic differences). Lihat bukunya: Aspects of Islamic Civilization as Depicted in the Original Texts, hlm. 9 (London: Routledge, 1964).

Definisi yang lebih tegas diberikan oleh Profesor al-Attas dalam bukunya, Historical Fact and Fiction (Johor Bahru: Universiti Teknologi Malaysia Press, 2011), hlm. xv: “I define Islamic civilization as a civilization that emerges among the diversity of cultures of Muslim peoples of the world as a result of the permeation of the basic elements of the religion of Islam which those peoples have caused to emerge from within themselves. … It is a living civilization whose pulse describes a process of Islamization, … in the sense of an unfolding of the theoretical and practical principles of Islam in the life of the people, in the sense of an actualization of the essentials and potentials of Islam in the realms of existence. … Islamic civilization is therefore a manifestation of unity in diversity as well as of diversity in unity.”

Intinya bahwa Peradaban Islam itu adalah hasil dari proses kolektif-selektif-kreatif yang dinamakan Islamisasi. Sumber energinya adalah wahyu –yakni Kitābullāh dan Sunnah Rasululullah. Ini internalnya, sementara eksternalnya dari peradaban-peradaban asing. Terjadilah pengambilan, pengumpulan, penyaringan, dan rekacipta. Namun, unsur-unsur asing itu tidak hanya di-adopsi, tetapi juga di-adapsi, diterima dan diubah agar tidak bertentangan dengan tata nilai atau ‘worldview’ Islam. Maka peradaban Islam itu merupakan paduan keberagaman dan keberagaman terpadu, kata al-Attas.

Peradaban Islam saat ini memang tidak seperti dulu, karena umat Islam sedang terpecah-pecah menjadi banyak negara yang masing-masing punya pemerintahan dan kepentingan sendiri, ideologi dan visi sendiri-sendiri, di mana nasionalisme dikedepankan, sekularisme diutamakan, komunisme dirayakan, kapitalisme diterapkan, dan liberalisme ditanamkam. Umat Islam hanya tampak menyatu ketika tawaf di Ka‘bah atau wukuf di Arafah. Sementara di PBB jarang kompak. Dalam banyak isu lebih sering tidak sepakat.

Peradaban Islam saat ini ibarat piramid yang masih berdiri tegak namun banyak dindingnya mengalami erosi sejak lima ratus tahun

Teladan Pancasila


Pancasila bukanlah suatu lukisan yang sekadar enak dipandang, tetapi juga, menarik untuk diketahui lebih jauh makna filosofisnya. Pancasila, karena indahnya itu, dari dulu hingga sekarang, tetaplah cantik dan mengasyikan apabila dijadikan sebuah bahan perbincangan.

Pada era kemerdekaan, Bung Karno, menyebar-nyebarkan benih bahwa Pancasila adalah penuntun jalan bagi Indonesia dalam mengarungi bahtera hidup berkebangsaan. Soeharto kemudian melegalisasi dengan P4 atau dikenal lebih dengan sebutan Eka Prasetya Pancakarsa. P4 sendiri adalah kependekan dari Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila.

Di era global, Pancasila kemudian direduksi dan dicatut sebagai suatu hal yang mempengaruhi munculnya istilah Revolusi Mental. Revolusi Mental sendiri adalah sebuah gerakan perubahan tingkah laku menuju manusia paripurna, katanya.

Namun, miris bukan kepayang, semua hal itu belumlah menjadi nyawa dalam ruh-ruh manusia Indonesia. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak mampu untuk membendung kekerasan atas nama agama. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab belum bisa mengentikan penzaliman. Sila Persatuan Indonesia tak kunjung memberikan damai dalam pengaminnya. Sila permusyawaratan hanya sampai pada pemahaman suara mayorokrasi. Sila keadilan sosial belum jua mengikis yang ‘tajam ke bawah dan tumpul ke atas’.

Sekadarnya, Pancasila yang sakral itu kini hanya dikenal dalam balutan upacara bendera setiap hari Senin. Dibacakan dan lalu dilupakan, singkatnya. Pancasila yang agung itu sekedar sebagai sebuah pampangangan yang nganggur di ruang-ruang kantor Camat.

Apa itu Pancasila?
Jika sebatas kalimat sila, kita tidak perlu lagi menjabarkannya. Selain terlalu panjang, cukup memakan waktu juga karena memberitahu apa yang sudah sewajibnya diketahui. Karena itu, jawaban mengenai “apa itu Pancasila” akan diarahkan lebih kepada aspek dan pembentukannya.

Suatu malam menjelang 1 Juni 1945, dikabarkan bahwa Soekarno tidak bisa tidur. Dia mondar-mandir, sliwar-sliwer melamunkan suatu dasar negara yang tidak hanya bisa digunakan untuk “satu, lima atau sepuluh tahun sahaja, tetapi suatu dasar negara yang digunakan untuk selama-lamanya.....”

Kata Yudi Latif, hal yang akan dilakukan Soekarno esok hari itu amatlah berisiko betul. Hal itu ditengarai oleh sebab perbedaan pandangan yang tajam dan juga pada waktu itu Jepang belum sepenuhnya ikhlas melihat Indonesia merdeka. Tetapi Soekarno tidak gentar, dia katakan pada dirinya sendiri “saya tahu risikonya, sebagai seorang pemimpin, tunaikan kewajibanmu, jangan pernah hitung-hitung akibatnya !!!!”

Dari situ kita dapat mengambil pelajaran pertama, bahwasanya Pancasila lahir dalam penghayatan yang tulus. Pancasila tumbuh bukan oleh keadaan yang terpaksa tetapi dengan bertunas penuh keyakinan yang besar. Dan, Pancasila sebagai jati diri yang tidak fakultatif tetapi absoulut atau kudu.

Pancasila, jelas sekali disitu, bukan sebuah pledoi. Pancasila juga, dalam mozaik kisah tersebut, bukan sebuah konfrontasi. Pancasila, senyatanya, adalah alat pemersatu yang kata Bung Karno “digali dari nilai luhur yang terjauh di Indonesia”.

Inti pokok Pancasila
Setelah merunutkan napas, eloklah sudah kita merinci setiap inti pasalnya.

Yang pertama, sebelum pada akhirnya menjadi sususan seperti saat ini dimana ayat pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan terakhir “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, Pancasila mengawali pesan heroiknya dengan Nasionalisme. Nasionalisme bagi Bung Karno penting, karena hanya rasa kebangsaan adalah pemersatu suku-suku dan budaya serta lainnya.

Butir kedua, Soekarno mencatut Ghandi soal nasionalisme yang bertumpu pada kemanusiaan.

Berlanjut yang ketiga, kemanusiaan itu menuntut suatu penyadaran. Penyadaran Pancasila mirip seperti penyadaran dalam arti Hans Khung, yaitu, pertama: jangan melakukan apa yang tidak ingin orang lakukan kepadamu. Kedua: cintailah sesamu seperti engkau mencintai diri