Selasa, 22 November 2016

SIAPA MANUSIA?

Masalah manusia adalah terpenting dari semua masalah. Peradaban hari ini didasarkan atas humanisme, martabat manusia serta pemujaan terhadap manusia. Ada pendapat bahwa agama telah menghancurkan kepribadian manusia serta telah memaksa mengorbankan dirinya demi tuhan. Agama telah memamaksa ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan maka manusia tidak berkuasa. (Ali Syariati, Paradigma Kaum Tertindas, 2001). Bagi Iqbal ego adalah bersifat bebas unifed dan immoratal dengan dapat diketahui secara pasti tidak sekedar pengandaian logis. Pendapat tersebut adalah membantah tesis yang dikemukanakn oleh Kant yang mengatakan bahwa diri bebas dan immortal tidak ditemukan dalam pengalaman konkit namun secara logis harus dapat dijatikan postulas bagi kepentingan moral. Hal ini dikarenakan moral manusia tidak masuk akal bila kehidupan manusia yang tidak bebas dan tidak kelanjutan kehidupannya setelah mati. Iqbal memaparkan pemikiran ego terbagi menjadi tiga macam pantheisme, empirisme dan rasionalisme. Pantheisme memandang ego manusia sebagai non eksistensi dimana eksistensi sebenarnya adalah ego absolut. Tetapi bagi Iqabal bahwa ego manusia adalah nyata, hal tersebut dikarenakan manusia berfikir dan manusia bertindak membuktikan bahwa aku ada. Empirisme memandang ego sebagai poros pengalaman-pengalaman yang silih berganti dan sekedar penanaman yang real adalah pengalaman. Benak manusia dalam pandangan ini adalah bagaikan pangging teater bagai pengalaman yang silih berganti. Iqbal menolak empirisme orang yang tidak dapat menyangkal tentang yang menyatukan pengalaman. Iqbal juga menolak rasionalisme ego yang diperoleh memlalui penalaran dubium methodicum (semuanya bisa diragukan kecuali aku sedang ragu-ragu karena meragukan berarti mempertegas keberadaannya). Ego yang bebas, terpusat juga dapat diketahui dengan menggunakan intuisi. Menurut Iqbal aktivitas ego pada dasarnya adalah berupa aktivitas kehendak. Baginya hidup adalah kehendak kreatif yang bertujuan yang bergearak pada satu arah. Kehendak itu harus memiliki tujuan agar dapat makan kehendak tidak sirna. Tujuan tersebut tidak ditetapakan oleh hukum-hukum sejarah dan takdir dikarenakan manusia kehendak bebas dan berkreatif. (Donny Grahal Adian, Matinya Metafisika Barat, 2001)
Hakekat manusia harus dilihat pada tahapannya nafs, keakuan, diri, ego dimana pada tahap ini semua unsur membentuk keatuan diri yang aktual, kekinian dan dinamik, dan aktualisasi kekinian yang dinamik yang bearada dalam perbuatan dan amalnya. Secara subtansial dan moral manusia lebih jelek dari pada iblis, tetapi secara konseptual manusia lebih baik karena manusia memiliki kemampuan kreatif. Tahapan nafs hakekat manusia ditentukan oleh amal, karya dan perbuatannya, sedangkan pada kotauhid hakekat manusai dan fungsinya manusia sebagai ‘adb dan khalifah dan kekasatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh yang membentuk pada tahapan nafs secara aktual. (Musa Asy’ari, Filsafat Islam, 1999)
Bagi Freire dalam memahami hakekat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya. Hubungan manusia harus dan selalu dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. Dunia bagi manusia adalah bersifat tersendiri, dikarenakan manusia dapat mempersepsinya kenyataan diluar dirinya sekaligus mempersepsikan keberadaan didalam dirinya sendiri. Manusia dalam kehadirannya tidak pernah terpisah dari dunidan hungungganya dengan dunia manusia bersifat unik. Status unik manusia dengan dunia dikarenakan manusia dalam kapasistasnya dapat mengetahui, mengetahui merupakan tindakan yang mencerminkan orientasi manusia terhdap dunia. Dari sini memunculkan kesadaran atau tindakan otentik, dikarenakan kesadaran merupakan penjelasnan eksistensi penjelasan manusia didunia. Orientasi dunia yang terpuasat oleh releksi kritiuas serta kemapuan pemikiran adalah proses mengetahui dan memahami. Dari sini manusia sebagaiu suatu proses dan ia adalah mahluk sejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. Manusia memiliki kemapuan dan harus bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih. (Siti Murtiningsih, Pendidikan sebagai Alat Perlawanan, 2004)

Filsafat Hidup Rasululloh

Seorang muslim yang sejati adalah apabila ia telah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai idola dalam hidupnya. Kita ikuti sikap dan tindak-tanduknya, demikian pula filsafat hidupnya harus diteladani.

Bagaimana filsafat hidup Rasulullah? Filsafat hidup adalah hal yang abstrak, yakni bagaimana seseorang memandang suatu persoalan hidup, cara memecahkan atau menyelesaikannya. Ada beberapa filsafat hidup yang dianut oleh manusia:

1. Pertama : Dalam hidup ini yang penting perut kenyang dan badan sehat.

2. Kedua : Dalam hidup ini mengikuti ke mana arah angin berhembus, angin berhembus ke Timur, ikut ke Timur, angin berhembus ke Barat, ikut ke Barat, suapaya selamat dan mendapatkan apa yang diinginkan.

3. Ketiga : Dalam hidup ini yang penting "GUE SENENG" masa bodoh dengan urusan orang lain.

4. Keempat : Dalam hidup ini harus baik di dunia dan baik di akhirat.

Sebagai muslim sudah selayaknya kita berfilsafat sebagaimana filsafat hidup Rasulullah SAW.



Filsafat hidup Rasulullah adalah sebagai berikut :

1. Pertama : Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat. "Wahai Rasulullah, bagaimana kriteria orang yang baik itu? Rasulullah menjawab:

Yang artinya: "Sebaik-baiknya manusia ialah orang yang bermanfaat bagi orang lain".

Jika ia seorang hartawan, hartanya tidak dinikmati sendiri, tapi dinikmati pula oleh tetangga, sanak famili dan juga didermakan untuk kepentingan masyarakat dan agama. Inilah ciri-ciri orang yang baik. Jika berilmu, ilmunya dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak. Jika berpangkat, dijadikannya sebagai tempat bernaung orang-orang disekitarnya dan jika tanda tangannya berharga maka digunakan untuk kepentingan masyarakat dan agama, tidak hanya mementingkan diri dan golongannya sendiri.

Pokoknya segala kemampuan/potensi hidupnya dapat dinikmati orang lain, dengan kata lain orang baik adalah orang yang dapat memfungsikan dirinya ditengah-tengah masyarakat dan bermanfaat.

Sebaliknya kalau ada orang yang tidak bisa memberi manfaat untuk orang lain atau masyarakat sekitarnya bahkan segala kenikmatan hanya dinikmatinya sendiri, berarti orang itu jelek. Adanya orang seperti itu tidak merubah keadaan dan perginyapun tidak merugikan masyarakat.

Jadi filsafat hidup Rasulullah SAW menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita sebagai manusia untuk memegang filsafat hidup. Orang yang hanya menanam rumput untuk makanan ternak ia akan mendapatkan rumput tapi padinya tidak dapat, sebaliknya orang yang menanam padi, ia akan mendapatkan padi dan sekaligus mendapatkan rumput, karena rumput tanpa ditanam akan tumbuh sendiri. Begitu juga dengan kita yang hidup ini, kalau niat dan motivasinya sekedar mencari rumput (uang) iapun akan memperolehnya, tetapi tidak dapat padinya atau tidak akan memperoleh nilai ibadah dari seluruh pekerjaannya.

Oleh karena itu dalam menjalankan kehidupan, niatkan untuk ibadah dengan suatu keyakinan bahwa pekerjaan dan tempat kerja kita, kita yakini sebagai tempat mengabdi kepada Nusa, Bangsa dan Negara, dan sebagai upaya menghambakan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian maka setiap hendak berangkat ke tempat bekerja berniatlah beribadah, Insya Allah seluruh pekerjaan kita akan bernilai ibadah, dan mendapatkan pahala.

Alangkah ruginya orang yang hidup ini niatnya hanya mencari "rumput" walau hal itu penting, tetapi kalau niatnya hanya itu saja, orang tersebut termasuk orang yang rugi, karena ia tidak akan mendapatkan nilai ibadah dari pekerjaannya.

Yang namanya ibadah bukan hanya shalat, zakat, puasa atau membaca Al-Qur'an saja, tetapi bekerja, mengabdi kepada masyarakat, Negara dan Bangsa dengan niat Lillahi Ta'ala ataupun ibadah. Hal ini penting untuk diketahui, karena ada yang berfilsafat: Kalau ada duitnya baru mau kerja, kalau tidak ada duitnya malas bekerja.



2. Kedua : Rasul pernah ditanya, wahai Rasulullah! Orang yang paling baik itu yang bagaimana? Rasul menjawab :

Yang artinya : "Sebaik-baiknya diantara kamu ialah orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya".

Sudah barang tentu orang yang semacamn ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Sebaliknya kalau ada orang yang amalnya baik tapi umurnya pendek masyarakat akan merasa kehilangan. Rasulullah juga mengatakan,"Seburuk-buruknya manusia yaitu mereka yang panjang umurnya tapi jelek perbuatannya".

Jadi sebenarnya kalau ada orang semacam itu mendingan umurnya pendek saja, supaya masyarakat sekitarnya tidak banyak menderita dan agar ia tidak terlalu berat tanggung jawabnya di hadapan Allah. Orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya itulah orang yang baik.

Permasalahannya sekarang bagaimana agar kita mendapat umur yang panjang. Sementara orang ragu, bukankah Allah telah menentukan umur seseorang sebelum lahir? Pernyataan ini memang benar, tapi jangan lupa Allah adalah Maha Kuasa menentukan umur yang dikehendaki-Nya.

Adapun resep agar umur panjang sebagaimana resep Rasulullah :

Secara lahiriyah, kita semua sependapat untuk hidup sehat, harus hidup teratur, makan yang bergizi serta menjaga kondisi dengan berolahraga yang teratur.

Secara spiritual orang yang ini panjang umur ada dua resepnya:

1. Pertama : Suka bersedekah yakni melepaskan sebahagian hartanya di jalan Allah untuk kepentingan masyarakat, anak yatim, fakir miskin maupun untuk kepentingan agama. Dengan kata lain orang yang kikir atau bakhil sangat mungkin umurnya pendek.

2. Kedua : Suka silahturahmi, Silah berarti hubungan dan rahmi berati kasih sayang, jadi suka mengakrabkan hubungan kasih sayang dengan sesama, saling kunjung atau dengan saling kirim salam.

Sementara para ahli tafsir menyatakan sekalipun bukan umur itu yang bertambah misalnya 60 tahun, karena sering silahturahmi meningkat menjadi 62 tahun, banyak sedekahnya menjadi 65 tahun. Kalau bukan umurnya yang bertambah, setidak-tidaknya berkah umur itu yang bertambah. Umurnya tetap tapi kualitas dari umur itu yang bertambah.



3. Ketiga : Rasul pernah ditanya, orang yang paling beruntung itu yang bagaimana? Rasul Menjawab :

Yang artinya : "Barang siapa yang keadaannya hari ini kualitas hidupnya lebih baik dari hari kemarin maka dia adalah orang beruntung".

Kalau kita bandingkan dengan tahun kemarin, ilmu dan ibadahnya, dedikasinya, etos kerja, disiplin kerja meningkat, dan akhlaknya semakin baik, orang tersebut adalah orang yang beruntung. Dengan kata lain filsafat hidup Rasulullah yang ketiga adalah "Tiada hari tanpa peningkatan kualitas hidup".

Pernyataan Rasul yang kedua :

Yang artinya: "Barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang rugi".

Jika amalnya, akhlaknya, ibadahnya, kedisplinannya dan dedikasinya tidak naik dan juga tidak turun maka orang tersebut termasuk orang yang merugi.

Sementara orang bertanya: Kenapa dikatakan rugi padahal segala-galanya tidak merosot? Bagaimana dikatakan tidak rugi, mata sudah bertambah kabur, uban sudah bertabu, giginya sudah pada gugur dan sudah lebih dekat dengan kubur, amalnya tidak juga bertambah, kualitas hidup tidak bertambah maka ia adalah rugi. Dan Rasul mengatakan selanjutnya :

Yang artinya : "Barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka orang semacam itu dilaknat oleh Allah".

Oleh karena itu pilihan kita tidak ada lain kecuali yang pertama, yakni tidak ada hari tanpa peningkatan kualitas hidup. Sebagai umat Islam, kedispilinan, dedikasi, kepandaian, kecerdasan, keterampilan harus kita tingkatkan, agar kita termasuk orang yang beruntung.



4. Keempat : Rasul pernah ditanya : "Wahai Rasulullah! Suami dan isteri yang paling baik itu bagaimana? Rasul menjawab : "Suami yang paling baik adalah suami yang sikap dan ucapannya selalu lembut terhadap isterinya, tidak pernah bicara kasar, tidak pernah bersikap kasar, tidak pernah menyakiti perasaan isterinya, tetap menghormati dan menghargai isterinya.

Sebab ada sikap seorang suami yang suka mengungkit-ungkit segala kekurangan isterinya, sehingga dapat menyinggung perasaannya, yang demikian termasuk suami yang tidak baik biarpun keren dan uangnya banyak. Hakekatnya suami yang tidak baik yaitu suami yang kasar terhadap isterinya. Dan seorang laki-laki yang mulia ialah yang bisa memuliakan kaum wanita, tidak suka menyepelekan. Sampai-sampai Rasul masih membela kepada kaum wanita beberapa saat sebelum Beliau wafat. Beliau sempat berpesan: "Aku titipkan nasib kaum wanita kepadamu". Diulangnya tiga kali. Karena kaum wanita kedudukannya serba lemah. Jadi kalau seoarang suami memiliki akhlak yang tidak baik maka penderitaan sang isteri luar biasa. Hal ini perlu kita ingat karena segala sukses yang dicapai oleh sang suami pada hakekatnya adalah karena andil sang isteri. Demikian juga andil isteri yang membantu mencarikan nafkah.



5. Kelima : Rasul pernah ditanya, "Wahai Rasulullah! Orang yang benar itu yang bagaimana? Rasul menjawab,"Apabila dia berbuat salah segera bertaubat, kembali kepada jalan yang benar. Oleh karena itu para filosof mengatakan, "Orang yang benar adalah bukan orang yang tak pernah melakukan kesalahan, tapi orang yang benar adalah mereka yang sanggup mengendalikan diri dari perbuatan yang terlarang dan bila terlanjur melakukannya, ia memperbaiki diri dan tidak mengulangi perbuatan yang salah itu. Ibarat anak sekolah mengerjakan soal, kalau salah tidak jadi masalah, asal setelah dikoreksi tidak mengulangi kesalahannya. Sampai-sampai ada ungkapan yang tidak enak didengar tapi benar menurut tuntunan Islam, yaitu: Bekas maling itu lebih baik dari pada bekas santri. Kita tahu bahwa santri adalah orang yang taat beragama, sedangkan maling penjahat, pemerkosa, dan sebagainya tapi setelah bertaubat menjadi orang yang baik, kembali ke jalan yang benar. Orang yang demikian matinya menjadi khusnul khotimah. Memang yang ideal, orang yang baik itu dari muda sampai tua baik terus, tapi hal itu jarang.

Kesalahan yang sudah terlanjur, selama masih mau bertaubat tidak jadi masalah. Oleh karena itu, segala hukuman, seperti hukuman administrasi dalam kepegawaian, selalu didasarkan atas beberapa pertimbangan. Apakah kesalahannya tidak bisa ditolerir, apakah orang tersebut perlu diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya atau tidak. Apakah kesalahannya terpaksa atau karena kebodohannya? Maka berbagai pertimbangan perlu dilakukan sehingga ada kesempatan bagi orang tersebut untuk memperbaiki kesalahannya, agar dia bisa kembali menjadi orang yang baik. Nabi Muhammad SAW bersabda :

Yang artinya: "Walaupun engkau pernah melakukan kesalahan sehingga langit ini penuh dengan dosamu, asal saja kamu bertaubat, pasti akan terima oleh Allah".



6. Keenam : Suka memberi. Sabda Nabi :

Yang artinya : "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah".

Orang yang suka memberi, martabatnya lebih terhormat daripada orang yang suka menerima. Allah berfirman :

Yang artinya : "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir, seratus biji. Allah melipat-gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah : 261)

Tidak ada orang yang suka sedekah, kemudian jatuh miskin. Umumnya yang jatuh miskin karena suka judi, togel, dan minuman keras. Dan resep kaya menurut Islam adalah kerja keras, hidup hemat, dan suka sedekah.



7. Ketujuh : Rasul pernah ditanya oleh para sahabat : "Wahai Rasul! Si pulan itu orang yang luar biasa hebatnya. Dia selalu berada dalam masjid, siang malam melakukan shalat, puasa, I'tikaf, berdo'a. Kemudian Rasul bertanya kepada para sahabat, "Apakah orang itu punya keluarga?" Sahabat menjawab, "Punya Ya Rasul". Kata Rasul : "Orang tersebut adalah orang yang tidak baik!. Saya ini suka ibadah tapi disamping itu sebagai seorang suami, berusaha mencari nafkah. Sampai Rasul menyatakan : " Tergolong tidak baik orang yang hanya mementingkan urusan ukhrawi tetapi melalaikan urusan dunia".

Juga tidak benar orang yang hanya mementingkan urusan duniawi tapi melalaikan urusan ukhrawi. Yang paling baik adalah seimbang antara kepentingan duniawi dengan kepentingan ukhrowi dan tidak berat sebelah.


SUMUR THALES
                                  Dunia dalam Setitik Air
Dimusim panas 1999, Universitas Cornell menerbitkan riset yang isi pokonya adalah menunjukan jika cinta sungguh merupakan obat-obatan. Pesisnya, ia adalah campuran dari dopamine, feniletilamin dan oksitosin di aliran darah yang mampu menghasilkan sensasi yang sering kita sebut ‘tergila-gila’. Cinta, kata para peneliti, pada kenyataanya merupakan bentuk kegilaan yang terinduksi secara kimiawi. Kondisi ini bertahan terus sampai tubuh membangun sebuah kekebalan terhadap substansi-substansi yang terlibat yang biasanya hanya dibangun dari pertemuan, kencan, dan membesarkan anak di masa alanya. Cinta, seperti yang kita rasakan adalah hal terpenting yang dapat terjadi pada diri seseorang dan seharusnya ditempatkan sebagai landasan, jadi bukannya dalam sepucuk jarum suntik yang diinjeksikan kepada mereka yang kekurangan cinta. Kesimpulan-kesimpulan dari Universitas Cornell ini didasarkan pada prinsip ‘reduksionisme’ : pemikiran yang menganggap segala sesuatu dapat dipahami dengan cara mesmisah-misahkan komponen-komponen penyususnannya atau bahwa proses-proses komplek dan berskala besar dapat diphami dalam istilah –istilah yang lebih sederhana. Penelitian dapat menjadi using, cepat dan lambat.namun jika ia dapat bertahan,maka ini bukan pertama kalinya ilusi-ilusi kita mulai dihalau oleh pemikiran yang reduksionistik.











Kacamata Kant
Meletakan Manusia di Alam Semesta
Para penikmat masuk dapat mendeteksi kejernihan rekaman musik yang tidak dapat dirasakan oleh mereka yang tidak begitu menyukai musik. Mereka rela menghabiskan sejumlah besar waktu dan uang untuk memperoleh amplifuer dan sistem speaker yang dapat menghasilkan suara sejernih aslinya. Meskipun begitu, sistem bi-fi sesempurna apa pun tetap saja gagal meraih kesempurnaan.  Keburaman yang terjadi dibeberapa titik di dalam proses rekaman ke piringan hitam tetap memberikan peluang bisnis bagi pengembangan perangkat elektronika generasi berikutnya. Mungkin akan tiba waktunya, saat tekhnologi audio telah sedemikian canggih sehingga satu-satunya pembatas bagi para penikmat bukan lagi sistem stereo yang buruk, melainkan alat pendengaran manusia itu sendiri. Pada titik ini, para filsufmungkin dapat mengatakan sesuatu berkenaan bi-fi ini. Apapun yang ditambahkan pada kemampuan telinga, atau pencapaian kualitas rekaman yang sejernih kristal, tidak akan membedakan kualitasnya, selain hanya sejenisnya saja. Kita dapat mendengarkn bunyi-bunyian seperti itu karena struktur khusus yang dimiliki telinga kita. Sebuah makhluk yang berbeda jenis pendengarannya seperti kelelawar yang mendengar secara berbeda karena sistem pendengarannya bekerja diwilayah frekuensi yang berbeda dengan kita.



Kacamata Kant
Meletakan Manusia di Alam Semesta
Para penikmat masuk dapat mendeteksi kejernihan rekaman musik yang tidak dapat dirasakan oleh mereka yang tidak begitu menyukai musik. Mereka rela menghabiskan sejumlah besar waktu dan uang untuk memperoleh amplifuer dan sistem speaker yang dapat menghasilkan suara sejernih aslinya. Meskipun begitu, sistem bi-fi sesempurna apa pun tetap saja gagal meraih kesempurnaan.  Keburaman yang terjadi dibeberapa titik di dalam proses rekaman ke piringan hitam tetap memberikan peluang bisnis bagi pengembangan perangkat elektronika generasi berikutnya. Mungkin akan tiba waktunya, saat tekhnologi audio telah sedemikian canggih sehingga satu-satunya pembatas bagi para penikmat bukan lagi sistem stereo yang buruk, melainkan alat pendengaran manusia itu sendiri. Pada titik ini, para filsufmungkin dapat mengatakan sesuatu berkenaan bi-fi ini. Apapun yang ditambahkan pada kemampuan telinga, atau pencapaian kualitas rekaman yang sejernih kristal, tidak akan membedakan kualitasnya, selain hanya sejenisnya saja. Kita dapat mendengarkn bunyi-bunyian seperti itu karena struktur khusus yang dimiliki telinga kita. Sebuah makhluk yang berbeda jenis pendengarannya seperti kelelawar yang mendengar secara berbeda karena sistem pendengarannya bekerja diwilayah frekuensi yang berbeda dengan kita.

Senin, 14 November 2016

Filsafat Cinta’? Adakah?

Cinta? Sayang? Suka? Love? Atau entah apapun namanya itu, sampai hari ini masih dan akan selalu menjadi trending topic di kalangan remaja,  bahkan tidak jarang di kalangan mantan remaja pun heboh membicarakan hal tersebut. Entah terbuat dari bahan dasar apa CINTA ini, sehingga mampu menghipnotis semua orang untuk selalu berbicara tentangnya setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan setiap hari. Dari pengamatan yang saya lakukan, Hampir semua orang  mengidap love syndrome* (gangguan yang disebabkan oleh virus “CINTA”). *hampir sama dengan GILA. maka, terkadang saya bertanya dalam hati, siapa sebenaranya yang membuat “CINTA” ini? dan tentu hati saya belum pernah menjawabnya sampai sekarang.

Tulisan ini, tulisan iseng saya. sekedar pengisi waktu kosong dan tentu hanya untuk seru-seruan. Sebenarnya saya terinspirasi dari dari adik-adik saya di organisasi. Hampir setiap hari mereka bertanya kepada saya tentang CINTA, tentang masalah yang mereka alami dengan pasangan masing-masing, tentang semua hal yang berbau CINTA. Bahkan pernah salah seorang di antara mereka yang memanggiil saya sebagai dokter cinta.

Entah bagaimana lagi caranya istilah dokter cinta ini tiba-tiba ia sematkan untuk saya. kalau dokter-dokter yang umunya menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mndapat gelar itu,  maka apakah waktu saya terlalu tidak berharga sehingga saya hanya harus mempelajari tentang cinta  selama bertahun-tahun. Ohh Nooo. saya Kuliah, saya punya organisasi, saya mengajar di sebuah lembaga kursus bahasa nggris. maka? masihkah kira-kira ada waktu untuk saya memusatkan pikiran terhadap sesuatu yang disebut cinta itu? Tidak!  tidak ada sama sekali.

Maka? setan apa yang merasuki adik saya ini sehingga dengan mudahnya memanggil saya sebagai dokter cinta? Dan lagi pula, kalau toh betul saya layak menyandang anggilan itu, keuntungan apa yang bisa saya dapat? Bisakah saya kaya karena gelar itu? bisakah saya memiliki Pacar karena gelar itu? (Upppsss, ketahuan kalau ‘dokter cintanya’ seorang jomblo.), bisakah saya bertemu dg pak Jokowi karena hal itu? sekali lagi TIDAK! Tidak Bisa sama sekali. so? tunggu apa lagi? “sadarlah de’... I’m not a Love doctor, and I Won’t!” saya lebih senang menjadi diri saya, saya lebih senang dengan nama ini “RISAL MURSALIM”, meskipun bertahun-tahun saya cari makna islami dari nama-nama ini. Tapi, tidak kunjung ketemu. Kalau “RISAL”nya mungkin bisalah kita artikan sebagai RISALAH. tapi Mursalim nya ini, dari tahun gajah (tahunnya nabi) sampai tahun Gagah (ini tahun saya), J belum pernah sekalipun saya temukan kata itu di Al-Qur’an dan kitab manapun.  Sempat hampir senang karena menemukan kata yg saya pikir sama dengan itu, yakni di Surah YaaSiin (Mursalin), tapi sayang dia berakhiran N, sedang saya yaaa berakhiran M (Mursalim). Tapi, meski demikian keluh dan kesah terhadap nama yang sudah ada tentu tidak diperbolehkan. Terlebih lagi saya yakin, bahwa Bapak saya butuh waktu yang tidak singkat untuk memikirkan nama itu. Saya tetap hargai dan hormati Nama pemberian itu.
Ohh God... Kembali ke laptop. Kita sudah terlalu jauh melenceng. Ini semakin menguatkan Hipotesa saya kalau CINTA itu memang bahaya. Bisa mengeluarkan kita dari jalur yang semestinya. Ia bisa membengkokkan yang lurus. Menyakiti yg sehat. Menjelkkan yang Ganteng, dan masih banyak lagi bahayanya. (sepertinya).

Okeee... kita kembali ke CINTA. dalam tulisan ini saya belum tahu apa dan sampai di mana yang akan saya bahas. Saya biarka saja tangan saya mengetik dengan gilanya (gilanya mungkin karena love Syndrome),. semua jadi tidak beres gara-agar CINTA ini. sepertinya betul apa yang disampaikan sahabat saya beberapa hari lalu “CINTA itu PEMBODOHAN”. ini yg dikatakan sahabat saya dalm sebuah pelatihan yang saya laksanakan di sekretariat organisasi saya. Mungkin kalau sempat, ini akan Kita bahas di paragrf-paragraf selanjutnya (itu pun kalau saya ingat), kalau saya tidak ingat berarti saya lupa. J
“semua gara-gara cinta” judulnya. (sepertinya sudah banyak judul yg tercipta malam ini). Patut dijadikan bahan pertimbangan untuk dikirim ke bang Haji Roma agar dijadikan judul lagunya.

Setelah saya menelaah dan memikirkan secara dalam, akirnya saya dapati alasan kenapa adik-adik saya sering bertanya tentang cinta kepada saya. Keyakinan saya bahwa ini bermuara di FILSAFAT MAHABBAH. (*Mahabbah dalam bahasa arab artinya CINTA). Jadi, terjemahkan sendirilah apa arti Filsafat Mahabbah. Di organisasi saya memang ada jadwal kajian rutinnya. biasanya malam jum’at, dirangkaikan dengan jaga lilin. ( upppsss.. salah.) maksud saya dirangkaikan dengan Dzikiran atau Yasinan. Di setiap kajian akan ada materi atau topik yang dibawakan untuk disampikan kepada peserta kajian. Dan salah satu materi pamungkas adalah FILSAFAT MAHABBAH itu. Sejatinya materi ini hanya digunakan untuk mengaktifkan anggota untuk ikut kajian. Dan saya jamin itu mempan. saya adalah korban Filsafat Mahabbah . 2 tahun lalu, ktika saya dalam keadaan puncak kebosanan BELAJAR, tiba-tiba senior memanggil untuk kajian FILSAFAT MAABBAH, yaa tentu saja saya ikut. Maklum umur saat itu masih labil-labilnya. Dengan sangat semangat saya mengikuti semua materi sampai selesai. Cara inilah  yang coba saya terapkan. Makanya, pernah suatu ketika, pada saat kondisi anggota sedang dalam malas-malasnya kajian, maka saya mengirimkan pesan ke mereka untuk datang kajian malam jum’at dengan materi FILSAFAT MAHABBAH.

malam jum’at itu, dengan modal nekat, dan sedikit ingatan dari mteri yang saya terima 2 tahun lalu, akirnya kajian pun dimulai. Prediksi tidak meleset, banyak anggota yg hadir, mereka antusiais, Luar biasa. “THE power of love”, lohh.. ini mirip judul lagunya siapa ya? ahh,... bodo amat. lupakan dulu judul lagu itu.. malam itu, pertanyaan demi pertanyaan pun terlontar dari mulut orang-orang penderita love syndrome. Yaaah saya jawab yang bisa saya jawab. Itupun jawaban yang saya berikan, kebanyakan dari pengalaman saya. J
banyak sekali yg saya sampaikan malam itu, akan tetapi saat ini hanya membekas 2 hal di kepala. Pertama, apa itu cinta? kedua, apa hakikat cinta?. maka, mungkin kalau saya ingat, kedua hal tersebut akan saya bahas di paragraf-paragraf berikutnya. berdoa saja.
mungkin sahabat-sahabat pembaca sekalian sudah ada yang men-cap saya sebagai orang yang anti dengan CINTA setelah  membaca paragraf-paragraf awal. Padahal sebenarnya Tidak. Saya tidak mau menjadi org yg munafik, saya butuh cinta untuk hidup. Saya butuh cinta untuk membuat hidup saya lebih berarti. Dan saya butuh cinta untuk membantu saya GILA. ahhaha. “semua orang butuh cinta”. Dan saya adalah bagian dari orang, maka tentulah saya butuh dengan cinta. Kecuali kalau sahabat-sahabat semua menganggap saya bukan orang, berarti terpaksa saya harus tidak membutuhkan cinta. hehehhe. Saya adalah orang yang sangat mengidolakan Alm. Gus Dur, saya sangat suka dengan prinsip tengah-tengahnya. tidak terlalu fundamental, dan tidak terlalu extreme. dan prinsip inilah yg selama ini saya coba aplikasikan ke dalam dunia CINTA saya. Saya tidak mau diperbudak cinta, dan saya tidak mau munafik. meskipun kadang saya agak liberal sedikit (kalau Ulil Absar Abdalla terkenal dengan JIL-nya, maka  saya harus  memperkenalkan Jaringn Cinta Liberal saya. hahay).

Kembali ke filsafat Mahabbah tadi. Sebenarnya saya tdak terlalu mahir dalam filsafat mahabbah. Hampir dari semua apa yang saya katakan saat memberikan materi , itu saya copy dari pengalaman saya. (terutama waktu SMA), kebetulan kehidupan cinta saya waaktu SMA terhitung ekstreme, 15 mantan pacar dalam 3 tahun mejadi prestasi tersendiri bagi saya, dan tentu tidak akan terlupakan. Akan tetappi, tentu jangan tiru adegan ini di rumah. hanya dilakukan oleh profesional. hahaha.

Memang belum perna saya temukan  referensi yg jelas dan fokus membahas tentang Filsafat Mahabbah. Sekedar informasi saja, bahwa Filsafat mahababh ini dipopulerkan oleh seorang filsuf Perempuan, RABIAH Al-Adawiyah namanya. Meski dalam kisahnya, mahabbah yang ia bangun adalah Maabba Fil Lah (cinta kepada Allah). Dan memang pada hakikatnya, Filsafat Mahabbah itu diperutukkan ke Tuhan. Tapi menurut saya, tidak ada salahnya ketika kita harus menggunaknnya di ciptaan TUHAN (misalnya: KAMBING . .haaha). Karena dalam konsep Mahabbah, memang ada 3 jenis CINTA. apa saja itu? (tanya sama rumput yg bergoyang) ahhaha. Ini juga akan kita bahas kalau ada waktu.
Well, sepertinya prolog sudah terlalu panjang. Dalam hitungan 5...4....3...2....1....0....... CINTAAAAAAAAA!!!!

 Apa Itu Cinta?

dalam kamus ilmiah populer Lengkap (Faridah Hamid, S.Pd) mengataan bahwa Cinta itu Rasa-kasih, Sayang; asmara.
sedang meurut William Shakespere Cinta itu Gila.
Dan oleh teman saya yg mengikuti Pelatihan tadi, mengatakan bahwa Cinta adalah Candu (cikal bakal teorinya :: Ciinta adalah Pembodohan). terinspirasi dari teori Karl Marx (Agama adalah Candu).

Akan tetapi, dari sekian banyak defenisi yg ada, saya lebih suka dan sering menggunakan “Cinta itu Emosional tanpa rasional”.
Dan saya tentu tidak menyalahkan pendapat-pendapat yang lain, karena saya yakin dari definisi yg mereka berikan, terkandung nilai kebenaran didalamnya.
Oke... pertanyaan besar yang muncul kemudian, “Kenapa cinta dikatakan sebagai Emosinal tanpa rasional?”  Tanpa dijelaskan pun, saya yakin sahabat-shabat semua sudah tau apa maksudnya. Tapi, tidak papa mungkin ketika saya mejelaskan sekali lagi. Jadi, Cinta itu bertempat di “emosioal:Hati”, bukan di Rasional:Akal”. mencintai yang eharusnya itu bukan dengan akal, tapi hati. Jelas, bukan cinta sepenuhya namanya ketika mengatas namakan akal. Lantas, bagaimana cara membedakan seseorang yg menggunakan Emosi dan akalnya. org yg mencintai dengan Akal biasanya menggunakan akal dan pikirnya untuk menentukan “kenapa saya harus jatuh cinta dengan orangg ini” maka bermunculan lah jawaban-jawaban seperti: saya jatuh cinta karena dia cantiik, saya jatuh cinta karena dia pintar, saya jatuh cinta karena di Kaya, dan sebagainya. Itu tentu tidak saya sarankan untuk digunakan. kemudian, orang yang mencintai dengan hati, bagaiman caranya? Simple, jawabannya adalah yangg diaa Tahu hanya CINTA, alasan kenapa dia CINTA tidak ada. Teringat juga kata bijak “True Love is love without Reason” (cinta sejati adalah cinta yang tidak membutuhkan lasan). karena ketika Anda mencintai seseorang dengan sebua alasan, maka patut untuk Anda rubah itu secepatnya.

Mengutip kata-kata senior “janganlah kalian mencintai dengan Akal, karena kelak pasti akan berakhir dengan akal-akalan. Tapi mecintalah kalian dengan menggunakan Hati, karena pun ketika ia arus berakhir, maka pasti akan berakhir dengan kehati-hatian”. Jadi, resiko sakit hati mencintai dengn hati jauh lebih kecil dibandinngkan ketika harus mencintai dengan akal.

Sesuai dengan janji saya di awal, ketika saya ingat,  maka saya akan membahas sedikit tentang Cinta itu pembodohan. Alasan teman saya sangatlah  rasional, bahwa siapapun Anda, ketika mengenal Cinta, Pasti Anda akan dengan sangat mudah dibodoh-bodohi. Ketika sang pacar  meminta ini, langsung diberikan. Ketika sang pacar memita itu, langsung diberikan. Hal ini lah yang oleh teman saya dikatakan sebagai Pembodohan. (janji saya sudah lepas). (sesingkat itu kah penjelasannya?).

Teringat juga salah satu kata teman saya itu tentang Cinta. Ia mengibaratkan bahwa cinta itu seperti TAPE, akan terasa enak kalau dikonsumsi dalam jumlah sewajarnya. tapi, akan memabukkan ketika dikonsumsi berlebihan. Begitu pula cinta, Cinta menurut teman saya hanya indah di awal saja, dibelakang pasti BURUK.

Pendapat teman saya ini, belum mau saya komentari kali ini, nanti di pargaraf kesimpulan akan saya komentari (itupun kalau sampai kesimpulan). heheh

Maka, dari beberapa penjelasan dan ulasan di atas, mungkin suda ada sedikit bayangan tentang apa itu Cinta. Atau, jangan-jangan masih ada yang blum bisa membedaka antara Cinta, Sayang, dan Suka. (80% pembaca mengangkat tangan). Seperti dugaan saya, ternyata bnyak yang belum tahu perbedaannya. Untung kalian membaca tulisan ini, jadi semoga saja tidak ada lagi yang terjebak definsi di kemudian hari. hahaha.

Kita mulai dari Suka. Suka itu perasaan kagum terhadap seseorang dan ditempatkan di hati. (hanya memikirkan orang itu). Sedangkan ‘Sayang’, tempatnya satu level di atas Suka. Sayang tidak hanya berakahir di hati, Tapi sudah masuk ke ranah lisan. Ketika ada orang yang mengaku cinta, dan setiap harinya selalu dia ungkakan dengan kata-kata, pada dasarnya belum ada cinta dalam dirinya. Yang ada hanyalah sayang. jadi, cinta itu sebenarnya apa? Cinta itu ada dalam hati, diucapkan di lisan, dan dibuktikan dengan tindakan. Bukan cinta namanya kalu tanpa Pembuktian. (ini Quotes cinta saya). hehehehe

Bagannya kurang lebih begini:
Suka---Mengagumi dalam hati
Sayang---Mengagumi dalam hati, mengucapkan dengan lisan
Cinta---Mengagumi dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan tindakan..